PAREPARE, PIJARNEWS.COM – Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw digelar dengan penuh khidmat oleh Grup Penggembira di Perumahan BTN D’Nailah, Galung Maloang, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Senin (8/9/2025).
Kegiatan ini mengusung tema “Keteladanan Rasulullah saw. dalam Membangun Kekeluargaan” yang menghadirkan nuansa kebersamaan, silaturahmi, dan penguatan nilai keteladanan Rasulullah.
Mewakili anggota grup, Ustaz Habibi dalam sambutannya menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar seremonial, melainkan momentum untuk memperdalam kecintaan kepada Rasulullah.
“Kegiatan maulid ini adalah untuk mengingat dan meningkatkan keteladanan kita kepada Rasulullah, sekaligus mempererat silaturahim dan kekeluargaan, khususnya di Grup Penggembira,” ujarnya.
Sementara itu, pembawa hikmah, Ustaz Haeruddin, S.Pd.I., M.A, menyampaikan pesan penuh makna dengan filosofi sederhana dari kehidupan sehari-hari. Ia menggambarkan bahwa keteladanan Rasulullah dapat dipahami lewat simbol-simbol yang dekat dengan masyarakat. Pertama, filosofi telur.
“Telur berasal dari ayam. Dari ujung kaki sampai kepala, manusia diliputi kotoran. Sama halnya dengan telur, ia keluar dari tempat dimana kotoran ayam keluar, tapi tetap bermanfaat. Maka kita sebagai manusia tidak boleh sombong,” ungkapnya.
Kedua, filosofi batang pisang.
“Pisang dari akar sampai ujung atasnya semua bermanfaat. Rasulullah seperti pisang, selalu memberi manfaat bagi sesama makhluk,” jelasnya.
Ketiga, filosofi sokko (ketan).
“Sokko itu lengket. Artinya, kita harus selalu kompak, bersatu, dan saling menguatkan. Sokko adalah simbol persatuan,” tambahnya.
Haeruddin juga menyinggung peran mata dan tangan sebagai perumpamaan kehidupan sosial.
“Mata sulit bersatu, ketika yang kanan kena debu, yang kiri tidak bisa menolong. Tapi jadilah seperti tangan, selalu berpasangan dan saling melengkapi. Tangan kanan digunakan untuk kebaikan, tangan kiri untuk hal-hal yang kotor. Semua ada fungsinya,” ujarnya.
Tak ketinggalan, ia juga membahas ayam sebagai hewan yang dicintai Allah.
“Ayam berkokok di tengah malam itu tanda untuk mengaji. Kokok menjelang Subuh menjadi pengingat masuknya waktu shalat. Bahkan pada jam-jam tertentu, kokok ayam memiliki pesan tersendiri,” jelasnya.
Melalui peringatan Maulid Nabi ini, jamaah diingatkan kembali untuk meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga ukhuwah, persaudaraan, dan kebersamaan. (*)
Reporter: Rizkyanti



















