PAREPARE,PIJARNEWS.COM— Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Parepare kembali menggelar Safari Ramadan yang memasuki malam ke-12 Ramadan 1447 Hijriah, sekaligus malam ketiga dari rangkaian kegiatan tahun ini. Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Tarbiyah Lontangnge, Cabang Soreang.
Safari Ramadan diikuti unsur PDM Parepare, Pimpinan Daerah Aisyiyah, organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah, serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Turut hadir pimpinan Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR), para kepala sekolah, serta guru SMA, SMK, dan SMP Muhammadiyah.
Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Dr Syarifuddin Yusuf, Dr Ibrahim Fattah, Prof Sriyanti Mustafa, Dr Asram Jaddah, Usman M Kes, Dr Abd Azis M Ak, Dr Yadi Arodiskara ME, dan Haniarti M Kes.
Kegiatan diawali dengan pengantar Wakil Ketua PDM Parepare, Dr Syarifuddin Yusuf. Ceramah utama kemudian disampaikan Ketua PDM Parepare, Prof Dr KH Mahsyar Idris M Ag, dengan tema “Konstruksi Pendidikan Generasi Qurani Menurut Al-Qur’an”.
Dalam ceramahnya, Mahsyar menjelaskan konsep generasi Qurani sebagai generasi yang menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, melainkan pedoman hidup. Ia mengutip pandangan Sayyid Qutb dalam Fī Ẓilāl al-Qur’ān yang menyebut generasi sahabat sebagai al-jīl al-Qur’ānī al-farīd atau generasi Al-Qur’an yang unik.
Selain itu, ia juga merujuk pemikiran Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn yang menekankan pentingnya integrasi ilmu dan amal dalam membentuk manusia Qurani.
Menurut Mahsyar, generasi Qurani dibentuk melalui internalisasi nilai Al-Qur’an secara epistemologis (cara berpikir), aksiologis (sistem nilai), dan praktis (perilaku sosial), sehingga melahirkan individu beriman, berilmu, bermoral, dan berperan aktif dalam peradaban.
Ia juga mengaitkan konsep tersebut dengan kearifan lokal Bugis, yakni karakter To Teppe (beriman), To Acca (cerdas), To Matanre Siri’ (menjunjung harga diri), dan Gau Patuju (berperilaku lurus). Dalam naskah klasik Bugis Latoa, terdapat ungkapan “Paramata Mattappa ana Eppona Adam” sebagai simbol kemuliaan manusia.
Selain menjelaskan konsep, Mahsyar memaparkan tujuh metode pendidikan generasi Qurani. Pertama, pendidikan akidah berpusat pada tauhid. Kedua, pendidikan yang berorientasi pada ibadah sebagai fondasi karakter. Ketiga, pendidikan berbasis akhlak yang mencakup dimensi spiritual dan karakter.
Keempat, pendidikan keluarga berbasis dialog dan kasih sayang. Kelima, pendidikan melalui keteladanan. Keenam, penciptaan lingkungan yang islami sebagai ruang tumbuh moral generasi. Ketujuh, pendidikan berbasis doa sebagai penguatan spiritual dalam membentuk keturunan saleh.
Melalui Safari Ramadan ini, Muhammadiyah Parepare berharap dapat memperkuat sinergi dakwah dan pendidikan dalam membentuk generasi Qurani, sekaligus mempererat ukhuwah antarwarga Muhammadiyah dan masyarakat.















