Kopi Nyasar: Revolusi Mental Pendidikan Indonesia dengan Pendekatan Empiris melalui Dangdut

Semalam Mama saya menelpon untuk kesekian kalinya, dan untuk ke sekian kali ini pula setelah mengajukan permintaan yang unik ini berulang-ulang. Seumur-umur saya baru saja menerima permintaan dari Mama yang sangat tidak biasanya. Biasanya Mama saya meminta mukenah baru dan atau biasa juga meminta saya pulang kampung, dan setiba di kampung Mama saya meminta dibelikan mukenah baru. Namun akhir-akhir ini sangat berbeda, permintaannya penting dan mendesak lebih dari mukenah baginya, dan harus dilakukan malam itu juga. Mama saya meminta tolong pada anaknya: Ketik Lida spasi Selfi kirim ke 97288, apalah ini bila dibandingkan kasih sayangmu Mama. Siap laksanakan.

Ini studi kasus yang menunjukkan betapa mental pendidikan kita sangat dipengaruhi oleh Dangdut. Mental pendidikan bangsa yang utama dibangun dan digarap dalam keluarga. Lalu pemeran utama dalam keluarga siapa lagi kalau bukan Mama-Mama yang hampir keseluruhannya di Negeri ini terbius dan terbawa arus keras Dangdut.

Keluarga sebagai sebuah sistem yang membentuk mental pendidikan dan Mama-Mama sebagai pemegang saham dominannya bisa menjadi peluang revolusi. Pada belahan dunia manapun dari Bumi hingga ke planet Namec, dengan beragam budaya dan sistem sosial. Keluarga merupakan unit sistem mental paling penting dalam tata bangunan masyarakat. Keluarga tercatat sebagai konsep mental yang multidimensi, multimedia dan multilateral serta multi-multi yang lainnya. Yang sekali lagi pemegang saham dominannya adalah Mama.

Peneliti keluarga kawakan, Ira Reiss (1965) mengungkapkan bahwa keluarga adalah suatu kelompok kecil yang terstruktur dalam pertalian keluarga dan memiliki fungsi utama berupa sosialisasi pemeliharaan terhadap generasi baru.

Pandangan tersebut sangat relevan dengan visi pendidikan yang tertuang jelas pada Pembukaan Undang-Undang 1945 yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang diawali dengan memajukan kesejahteraan umum. Sebelum cerdas harus sejahtera dahulu, batiniah dan lahiriah financial freedom begitu.

Secara tersirat Pembukaan UU 1945 itu juga mengamini bahwa Dangdut bisa menjadi jalur paling empiris untuk revolusi mental pendidikan Indonesia. Pada lingkungan dangdut itu orang cerdas dan sejahtera sama sekali sudah tidak bisa dibedakan lagi, apalagi yang cerdas sekaligus sejahtera. Hal tersebut sangat urgent untuk generasi baru yang akan menjadi pemegang dan penentu nasib NKRI harga mati ini di masa depan. Bisa dibayangkan bagaimana revolusi mental pendidikan itu bergerak dengan pendekatan empiris melalui Dangdut. Tentu dengan bantuan tangan dingin Mama-Mama.

Namun sebelum saya meneruskan pandangan fiktif ini lebih jauh. Saya ingin menaruh kata maaf tepat di gendang telinga seseorang yang semoga bisa terpantul menyentuh lubuk dalam hatinya. Orang itu adalah pecinta dangdut koplo yang sedikit peduli sama pendidikan. Yah, dia seorang Pangeran di mojok.co, Agus Mulyadi belum lama ini mengirimkan surat terbuka untuk Pak Mendikbud yang berencana menggelar nonton bareng ‘Dilan’ di peringatan Hardiknas seperti ini.

Walau surat terbuka itu tidak dikirimkan ke Pak Mendikbud langsung, namun karena Mojok memuatnya, surat itu kini lebih dari sekedar terbuka. https://mojok.co/ gitu deh, ^_^. Secara personal, di luar aktivitas keseharian saya sebagai penikmat dangdut garis receh. Dengan terang-terangan menyatakan sikap penolakan dan sangat tidak setuju dengan beberapa tawaran solusi dari Agus Mulyadi yang secara diam-diam pada beberapa tulisannya menyiratkan Dilan sesungguhnya adalah doi, di tengah-tengah Pidibaiq yang menolak dianggap sebagai Dilan. Pidibaiq hanya mengakui dirinya adalah imigran dari surga, yang diselundupkan ke Bumi oleh Ayah dan Mamanya di kamar pengantin yang tegang.

Eits, lo kenapa kita bahas Kang Pidibaiq. Fokus.. Fokus, karena ini bukan fiktif sembarangan. Revolusi…. Kita kembali ke pembahasan. Dengan memperhatikan gestur dan bonus demografi serta kecendrungan masyarakat Indonesia di beberapa abad terakhir ini. Nonton bareng Dilan di peringatan Hardiknas sudah tepat sebagai bukan langkah yang cerdas.

Oleh karena itu solusi yang paling mungkin canggih untuk Pak Mendikbud. Peringatan Hardiknas sebaiknya menghadirkan hal yang lebih fenomenal dari kebijakan full day school yakni nonton bareng Liga Dangdut Indonesia, sebagai manifesto gerakan mempertahankan nilai-nilai luhur pendidikan rakyat melalui lagu-lagu Dangdut. Kalau perlu dimasukkan dalam kurikulum.

Dangdut tidak bisa dianggap remah-remah di Negeri ini, menurut data perantara yang bersumber dari Pantura. Selain sedikit banyak mempengaruhi cara belajar yang akhirnya berdampak signifikan pada sistem pendidikan bangsa. Dangdut juga menjadi penyerap tenaga kerja paling tidak bisa disabotase oleh aseng maupun asing apalagi unta.

Atas dasar pendekatan empiris itu sudah sepantasnyalah di Indonesia ini, para biduan, musisi dan industri yang melatarbelakanginya serta Mama-Mama dan Cak Agus Mulyadi selaku penikmat dangdut koplo yang sedikit peduli sama pendidikan itu memprakarsai adanya hari dangdut sedunia yang dimulai dari Indonesia. Hari Dangdut yang lahir itu bisa menjadi trampoline, sebagai instrument loncatan menuju Revolusi Mental Pendidikan Indonesia.

Sekedar menjadi catatan, sejak 2012 Foke telah mengusulkan Hari Dangdut Nasional namun hal tersebut tengkurap, terlupakan dan tidak mendapatkan tanggapan apa-apa. Mungkin salah satu sebabnya adalah karena Foke bukan seorang Mama-Mama, padahal mestinya gerakan extrim kanan dan kiri seperti ini harus diolah, digoreng dan dimasak oleh Mama-Mama.

Dangdut is the music of my country sudah sangat cukup menjadi tagline dan tagar besar untuk merealisasikan gerakan tersebut. Sebagai tawaran awal ke Pak Mendikbud, bagaimana kalau hari Dangdut dijama’ dengan Hari Pendidikan Nasional.

Dan bila hal itu tidak dipenuhi, kami akan turunkan massa di laman-laman sosial media, youtube, dan juga di sanubari Danduters untuk terus menanamkan dan meyebarluaskan idealisme Dangdut ke seantero dunia akhirat. Ingat! Sepakbola menjadi senjata Revolusi Che Guevara di Kuba dan Dangdut sangat bisa menjadi senjata Revolusi di Indonesia.

Terima kasih dan salam dangdut/dang·dut/ n jenis dan irama musik yang ditandai oleh pukulan tetap bunyi gendang rangkap yang memberikan bunyi dang pada hitungan ke-4 dan dut pada hitungan ke-1 dari birama berikut (KBBI).

Selamat Hari Pendidikan Nasional dan juga Selamat Hari Dangdut Dunia Akhirat

Parepare, 2 Mei 2018

Muhammad Ibrahim Leman
@ibrahlaiman

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda