Foto: Prof. Darma, Guru Besar Metode Pembelajaran Bahasa Arab Kontemporer IAIN Parepare
PAREPARE, PIJARNEWS.COM – Meraih gelar tertinggi di dunia akademik bukanlah perkara mudah. Hal ini dibuktikan oleh Prof. Darma, seorang akademisi yang baru saja mencapai puncak kariernya sebagai Guru Besar dalam bidang Metode Pembelajaran Bahasa Arab Kontemporer setelah mengabdi selama 28 tahun sebagai dosen. Perjalanannya diwarnai dengan disiplin tinggi, ketelatenan menulis, hingga pengabdian di berbagai organisasi kemasyarakatan.
Pendidikan Prof. Darma berakar kuat di sekolah berbasis agama. Dia memulai pendidikan dasarnya di SD 84 Cenderana, Kabupaten Bone. Setelah itu, merantau ke Sengkang untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren As’adiah (MTs 1 Putri) dan melanjutkan ke PGAN Watampone.
Pendidikan tingginya difokuskan pada Pendidikan Bahasa Arab, mulai dari S1 di IAIN Alauddin Ujung Pandang, S2 di Universitas Negeri Makassar (UNM), hingga meraih gelar Doktor (S3) kembali di IAIN Alauddin Makassar.
Tidak hanya di ruang kelas, Prof. Darma juga dikenal aktif berorganisasi sejak mahasiswa, mulai dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Keluarga Kerukunan Masyarakat Bone (KKMB), Fatayat NU, Muslimat NU, hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI).
“Ibu sejak sekolah hingga perguruan tinggi memang selalu aktif dalam berorganisasi,” kata Darmawati kepada pijarnews.com.
Tantangan terberat dalam meraih gelar profesor, menurutnya, adalah publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi. Prof. Darma menceritakan bagaimana ia harus fokus total saat menyusun artikel untuk syarat khusus di Web of Science (WoS).
“Dalam menulis itu, untuk tembus ke WoS, ibu kadang 4 malam 5 hari itu cuma makan dengan salat saja untuk bisa menyelesaikan satu artikel,” kenang Prof. Darma.
Ia menegaskan bahwa bagi akademisi perempuan, fokus adalah kunci. Selama masa penulisan intensif tersebut, ia harus menanggalkan sejenak urusan domestik. “Kita memang tidak mengurus dulu persoalan memasak sebagai ibu rumah tangga. Kita memang tinggal untuk menulis saja agar tulisannya menyambung dan maksimal,” tambahnya.
Kini, kesuksesan Prof. Darma telah diakui secara nasional, terbukti dengan kelulusannya sebagai Reviewer Litapdimas Kementerian Agama RI pada tahun 2025. Ia pun membagikan pesan penting bagi para dosen muda dan mahasiswa, khususnya perempuan, yang ingin mengikuti jejaknya.
Ia berpesan, mahasiswa harus memiliki tekad untuk menempuh pendidikan hingga tingkat doktoral. Lalu menurutnya mahasiswa jangan berhenti menulis. “Publikasi berupa buku dan artikel jurnal adalah kewajiban yang harus dipersiapkan sejak awal karier,” pungkas Dosen Bahasa Arab IAIN Parepare ini.
Darma juga mengingatkan tetap sabar dengan proses sebab ada masa tunggu minimal 3 tahun setelah lulus S3 sebelum bisa mengajukan gelar profesor, serta syarat masa kerja minimal 10 tahun. Selain dari itu, kata dia, mahasiswa harus melakukan persiapan matang karena seluruh persyaratan angka kredit harus dipersiapkan secara telaten dari “A sampai Z”.
“Jangan berhenti dari awal sampai ke puncak. Harus betul-betul telaten dan kontinyu, bukan terputus-putus,” tutupnya.
Prof Darmawati, dikukuhkan sebagai Guru besar pada Selasa lalu (10/2/2026) di Auditorium IAIN Parepare. Selain dia, Senat IAIN Parepare juga mengukuhkan dua guru besar lainnya yaitu Prof. Dr. Hj. Muliati, M.Ag (Bidang Teologi Islam), dan Prof. Dr. Rahmawati, M.Ag (Bidang Fikih Munakahat). (*)
Reporter: Faizal Lupphy














