Oleh : Selvilia Normadi, S.Pd
(Pemerhati Sosial)
Pendidikan Indonesia mendapat angin segar. Bahwasanya baru baru ini Pemerintah Kota Samarinda menerima kunjungan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Public Affairs Kedutaan Besar Amerika Serikat, John Slover mengatakan bahwa pihaknya berkesempatan mengunjungi sejumlah sekolah menengah atas di Kota Samarinda. Ia mengaku terkesan dengan kualitas siswa maupun sekolah yang ada. Dalam kesempatan ini, ia mengutarakan harapannya agar memberikan dukungan di bidang pendidikan, khususnya dalam membuka akses dan kesempatan bagi pelajar Samarinda untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat. (presisi.co)
Negara Paman sam’ seakan tak pernah kehabisan ide untuk menyebarkan ide yang diembannya. Termasuk mencoba menarik generasi muda agar terpikat mengenyam pendidikan di negaranya. Padahal, AS adalah negara biang kapitalisme yang kental dengan nilai sekuler dan liberal. Sekuler yang merupakan ide yang terbentuk dari pemisahan agama dari kehidupan hingga lahir ide liberal (hidup bebas) yang saat ini di emban oleh AS pada faktanya jauh dari kehidupan asli kaum muslim. Jika generasi khususnya muslim mengikuti mereka, sudah pasti arah kompas hidup mereka akan teralihkan dan mengikuti mereka.
Dukungan pendidikan dengan memberikan akses melanjutkan studi ke AS tentu tidak semata kunjungan biasa tapi memang punya misi politik di baliknya. Sudah barang tentu program yang sudah dirancang AS tak lepas untuk menjauhkan generasi muda dari ajaran Islam kaffah (keseluruhan) dan menggantinya dengan nilai-nilai sekuler dan gaya hidup Barat yang dinamai tsaqofah asing. Tsaqofah asing yang merupakan pengetahuan berlandaskan sekularisme sebagai dasarnya, bukan Islam. Sekularisme ( memisahkan agama dari kehidupan) menjadi sebab pembahasan, pengajaran, dan penyebarannya. Perlu diketahui, bahwa tsaqafah asing menjadikan seluruh konsep pemikiran serta pandangan hidup berdasarkan sekularisme saat memahami tentang alam semesta, manusia, juga kehidupan. Maka, konsep hidup ini meletakkan standar benar-salah dan baik-buruk berdasarkan kemanfaatan yang didapatkan saja dan tolak ukur kebahagiaan adalah mendapatkan materi duniawi sebanyak mungkin. Inilah pemikiran yang harus dijauhkan dari kehidupan kaum muslim termasuk generasi.
Munculnya pandangan AS sebagai mercusuary pendidikan saat ini juga tidak lepas dari konsep kapitalis agar ide atau penjajahan mereka tetap langgeng. Adapun melalui program yang dibuat mereka agar menghasilkan kader-kader yang akan memengaruhi kebijakan di negara asalnya agar sejalan dengan kepentingan Barat, sehingga menjadi dukungan intelektual yaitu kaki tangan Barat. Oleh sebab itu, tawaran studi ke Barat berbahaya bagi umat, bukannya ilmunya bermanfaat justru sebaliknya.
Islam sebagai kiblat pendidikan. Di mana perhatian Islam sangat besar dalam dunia pendidikan. Negara berkewajiban memberikan kesempatan belajar pada semua rakyatnya secara gratis bagi setiap individu. Rasulullah saw. bersabda, “Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim laki-laki dan perempuan.”
Negara dalam Islam juga menetapkan aqidah Islam menjadi landasan pemikiran dalam pelajaran ataupun pembelajaran. Sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Telah diriwayatkan bahwasanya beliau saw. ketika mendengar sebagian orang mengatakan sesungguhnya matahari mengalami gerhana karena kematian Ibrahim, putra Rasulullah saw., beliau lalu mengatakan, “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak akan mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang.” Dalam hadis ini Rasulullah saw. menjadikan akidah sebagai dasar dalam berbagai informasi termasuk yang berkaitan dengan gerhana matahari dan gerhana bulan.
Dalam hadis dari Abu Said, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw. dalam Perang Bani Musthaliq saat kami mendapatkan seorang wanita Arab sebagai sabiyya (rampasan). Wanita tersebut sangat menarik kami, tetapi kami berkeinginan kuat untuk tidak hamil sehingga kami lebih suka melakukan azl. Lalu kami bertanya pada Rasulull saw mengenai hal itu dan beliau saw. pun menjawabnya, ‘Apa yang memberatkan kalian jika kalian melakukan? Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, benar-benar telah mencatat sebagaimana apa adanya, sebagai Sang Pencipta hingga kiamat.’” (HR Muslim). Dari hadist ini juga jelas bagaimana cara Rasullullah menjawab pertanyaan, aqidah sebagai landasan dalam menjawab pertanyaan kaum muslim.
Maka, sebagai umat Rasulullah yang mengaku beriman dan mencontoh Rasulullah, ada larangan untuk mempelajari sesuatu yang bertentangan dengan Islam kecuali setelah adanya dasar yang kuat yaitu aqidah Islam. Bukan hanya itu, negara memiliki kewajiban untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, industri, navigasi atau pelayaran, pertanian, dan sebagainya, dan haram mengajarkan segala sesuatu yang bertentangan dengan Islam seperti melukis dan mengukir.
Adapun dari pendidikan yang diberikan oleh islam melalui politik pendidikan Islam yang dijalankan oleh negara menghasilkan pola pikir (standar pikiran) dan pola sikap (perbuatan) muslim berjalan sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Sesuai firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al Baqarah: 208).
Ditambah peringatan Allah terkait menyikapi tsaqofah asing, “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya, petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).’ Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (QS Al-Baqarah: 120)
Maka tak heran Islam pernah menjadi mercusuar dunia saat berjaya, sistem pendidikan Islam melahirkan generasi penerus Islam pelopor perubahan. Seperti Al Khawarizmi, seorang ahli matematika, dikenal Barat dengan Algebra atau Aljabar. Beliau membuat hitungan matematika jauh lebih mudah dengan adanya angka nol. Saat itu peradaban Romawi masih menggunakan angka romawi yang susah dipelajari. Bapak kedokteran dunia, Ibnu Sina atau dikenal Avicenna, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, dan masih banyak lagi. Hal ini menjadi bukti bahwa ulama pada masa kejayaan Islam bukan hanya fokus dan lihai dalam ilmu agama, namun juga menguasai ilmu umum, sains dan teknologi.
Ini semua tak lepas dari bagaimana Rasulullah dan Khalifah saat menjadi pemimpin menjadikan Islam sebagai dasarnya. Sehingga mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul dunia dan akhirat. Karena memang sistem pendidikan Islam yang diwariskan memiliki visi yang jelas, yaitu mencetak generasi dengan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam, kurikulum yang berlandaskan akidah Islam, bukan sebuah utopia lahir generasi yang tinggi akhlaknya, cerdas akalnya, dan kuat imannya.
Sudah saatnya menggantungkan harapan pada syariat Allah. Karena, sistem pendidikan Islam akan mencetak generasi yang unggul secara hakiki, melahirkan generasi bersyakhsiyah islamiyah.
WalLâhu a’lam bishawâb
















