Kartini dan Wacana Literasi

OPINI, PIJARNEWS.COM  — Sebagai subjek literasi demokrasi peranan perempuan di zaman ini memiliki akses di ruang-ruang publik, KPU mencatat 94. 975 perempuan mengisi ruang tarung politik pileg (Pemilihan Umum Legislatif) dan menjadi salah satu bukti bahwa perempuan memiliki bargaining power dan bargaining position sebagai pengusung kebebasan setiap individu untuk bertindak dan memilih.

Raden Ajeng Kartini atau Raden Ayu Kartini sebagai biang inspirasi, pahlawan Nasional dan pelopor kebangkitan kaum perempuan menjadi cermin kemajuan perempuan di tengah hegemoni budaya yang mendiskriminasi dan memarginalkan kaum perempuan yanghanya sebagai “konco winking” (teman di dapur saat makan) atau “swarga nunut, neraka katut” (ke surga ikut, ke nerkapun turut) dan Kartini hadir mengusung peranan dan suara perempuan dalam kesetaraan gender.

Spirit literasi

Perempuan dan gerakan literasi bukan menjadi sesuatu yang Vis a vis yang harus dihadap hadapkan tapi menjadi sebuah konsekuensi logis ketika kita ingin melihat kemajuan bangsa yang tidak luput dari peranan perempuan.
Spirit literasi digambarkan dalam kisah perjuangan Kartini ditemukan dalam kumpulan Surat-surat yang dkirimkan kepada teman- temanya di negeri Belanda dan di bukukan dgn judul “Door duistermis tox licht” (Habis gelap terbitlah terang) ini adalah gambaran semangat dari sosok pahlawan perempuan yang Ingin melepas kaumnya dari diskriminasi yang panjang pada zamannya.
Isu pendidikan dan gerakan literasi harus di topang oleh peranan perempuan baik sebagai pendidik pertama di rumah maupun sebagai guru di sekolah, sebagai orang tua murid/siswa para ibu seyogyanya melakukan sinergi dengan guru dan pihak sekolah untuk menumbuhkan semangat belajar dengan menciptakan miniatur sekolah, miniatur pembelajaran di rumah bagi pembelajar dan sebagai alat kontrol lembaga pendidikan bagi anak didik di luar jam sekolah.

Tasya Kamila mantan penyanyi cilik lulusan Magister dari Columbia University baru saja bergabung menjadi Quipper Super Teacher menyampaikan “Saya percaya generasi yang berkualitas lahir dari perempuan-perempuan yang cerdas” karena tugas menentaskan isu pendidikn bukan tugas pemerintah dan guru di sekolah semata tapi yang lebih penting bagaimana seorang ibu ikut berperang mengedukasi langsung sebagai pendidik pertama di rumah.

Emansipasi Demokrasi

Kesetaraan gender menjadi isu yang mengemuka pada Platform pembangunan Negara Indonesia, selama ini secara sosial wanita terpinggirkan oleh budaya Patriarkis yang menempatkan laki- laki sebagai pemegang kekuasaan dan penentu kebijakan.

Emansipasi menurut wekipedia adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu.

Hak politik perempuan dipergunakan sebagai asas persamaan derajat khususnya dalam rana pengambilan keputusan berkesempatan ikut serta dalam kontestasi politik dengan hak politik tanpa diskriminasi sesuai dengan UU no. 8 tahun 2012 tentang pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD. Oleh Abraham Lincoln bahwa demokrasi adalah “dari rakkyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”.

Perempuan dalam demokrasi menjadi salah satu penentu arah keadilan dan keberadaban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karna perempuan tidak lagi hanya berada di “dapur” sebagai Konco Winking namun berperan bersama menegakkan tatanan kehidupan berdemokrasi.

Kesempatan berpolitik dan kesetaraan gender juga termaktub dalam Landasan Aksi Beijing (Beijing Platform for Action) dengan 12 cabang kritis, pada point 7. a. Mengambil langkah-langkah untuk menjamin akses dan partisipasi penuh perempuan dalam struktur-struktur kekuasaan dan pengambilan keputusan. ; b. Meningkatkan kapasitas perempuan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan kepemimpinan.

Penulis: Sirajuddin
Pustakawan IAIN Parepare

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda