Esai: Membicarakan Angin

Dua orang misterius memasuki kafe tempat kami berbicara.

helm mereka berdua masih rapat di kepalanya. mungkin karena malu atau entah, mereka sampai tak sempat menaikkan kaca helmnya. di dalam kafe itu, mereka duduk santai pas di bagian tengah dan tetap istiqomah mengenakan helm dengan kaca tertutup.

satu persatu mengucek-ngucek smartphonenya seperti sedang sibuk sekali. waiters kafe mendekati mereka, kedua ‘helm men’ itu memperlihatkan sebuah tulisan dari smartphone. seperti sudah mengerti, si waiters mengangguk dan segera mengantarkan pesanan yang mereka perlihatkan melalui layar hp tadi.

kopi robusta dan green tea, sesuai pesanan mereka. keduanya masih terus duduk dan seperti sangat menikmati suasana kafe dan hidangannya. salah satunya ada yg beranjak ke wc, masih dan keluar dari wc dengan helm lengkap tertutup.

beberapa saat kemudian keduanya menghentikan aktifitasnya, tak ada suara pembicaraan, tak ada kata-kata yg menguap, sepertinya mereka chatting melalui smartphone walau tak terpisah ruang dan waktu.

kompak mereka keluar kafe setelah sekira sejam duduk dengan tanpa perasaan aneh, masih dengan helm lengkap tertutup. teman yang penasaran, mengikuti mereka sampai di tempat parkir. keduanya naik ke sebuah mobil dengan mengenakan helm lengkap tertutup.

one way di kaca belakang mobil, seperti menjelaskan identitas mereka, tertulis besar: KOMUNITAS ANGIN, taglinenya agak kecil: menyelesaikan masalah tanpa suara. (***)

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda

Pijar News di di Google News