Esai: Dengarlah Bualanku Indonesia

oleh: Darussalam

Ini hanyalah sebagian kecil dari barisan perjuangan, belumlah ada kata sepadan dengan apa yang sudah diperjuangan oleh para pahlawan melawan penjajah. Darah juang telah engkau kobarkan, rasa tak gentar telah engkau perlihatkan, jiwa kokoh tanpa goyah telah engkau buktikan, engkau rela berkorban jiwa dan raga demi memetik dahaga kemerdekaan.

Darah dan tangis sudah menjadi syair perjuangan, rintihan dan jeritan sudah menjadi makanan harian, betapa kokohnya engkau melalui masa-masa kelam itu demi memetik dalamnya kedamaian, bangsa ini engkau perjuangkan demi sebuah ketentraman , niat dan tekad engkau tujukan demi mempertahan hak dan kewajiban.

Kini negara yang engkau perjuangkan dalam waktu dekat akan mencapai umurnya yang ke-72 , anak cucumu sudah menikmati kententraman, sudah mencicipi nikmatnya kedamaian, sudah melahap indahnya persatuan !

Namun entah mengapa apa yang sudah engkau perjuangkan kini sudah mulai goyah. Apa yang dulu engkau kobar kobarkan sudah mulai berubah, kedamaian yang engkau tanamkan dulu, kini sudah bergeser kepada pertikaian, ketentraman sudah berubah alih menjadi pertengkaran, persatuan yang selama ini menjadi obat penenang kini sudah menjelma menjadi perselisihan.

INDONESIA dulu dengan budaya gotong royongnya kini sudah tiada , sekarang anak cucumu asyik dengan sendiri-sendirinya , INDONESIA dulu sangat menghargai perbedaan sekarang sudah ber-reinkarnasi penuh dengan penolakan keberagaman, akankah kalimat sakral “Bhineka Tunggal Ika” yang engkau titipkan kepada kami nantinya itu hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur bagi anak cucu kami.

Akankah PANCASILA Yang terpampang nyata dalam dada GARUDA kedepan akan menjadi hikayat cerita belaka

Gundah gulana meratapi INDONESIAKU, resah tak terkalah melihat kondisi negara dewasa ini , seakan HUKUM tak lagi menjadi tameng utama bagi rakyat pencari keadilan.

Neraca Hukum yang melambangkan keadilan kini bak lambang biasa saja tanpa menyelami filosofi esensinya banyak diluar sana orang miskin merasa dicekik oleh kebijakan hukum. Keadaan ini berbanding terbalik dengan mereka yang tertawa terbahak2 didalam penjara kenyamanan, seakan DEMOKRASI sudah menjadi tumbal kegagalan Negara bahwa demokrasi bukanlah solusi untuk menciptakan perdamaian.

Sungguh IRONI INDONESIA ini. Diluar sana sangatlah banyak orang yang cerdas namun bukan kecerdasan diatas segalanya melainkan kejujuran akan tanggung jawablah yang semestinya di dahulukan. Diluar kandang banyaklah orang yang berkarhisma namun itu bukanlah menjadi kepastian dan kebijaksanaan melainkan karakter lah sebagai jiwa dan roh leluhur penjuangan bangsa !!!

Memperingati HUT ke-72 RI

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda