PINRANG, PIJARNEWS.COM — Di balik dinding kokoh SMPN 2 Pajalele, sebuah drama tak terduga sempat mewarnai hari-hari para pelajar. Dua kelompok siswa, yang dikenal dengan nama unik, “Geng Kantin” dan “Geng Dara,” terlibat dalam konflik yang nyaris merusak harmoni sekolah.
Polsek Lembang pun turun tangan, hingga kisah perseteruan berakhir dengan damai.
Kamis (7/8/2025) kemarin, di salah satu ruang kelas yang biasanya penuh dengan tawa dan coretan, suasana berubah menjadi lebih serius.
Kapolsek Lembang IPTU H. Ridwan Mustari, S.Pdi., M.H., memimpin sebuah mediasi. Ini bukan sekadar menyelesaikan masalah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur kepada para pelajar. Bersama Kepala Sekolah Muh. Syarif, S.Pd., M.Si., serta jajaran guru, mereka duduk bersama, mempertemukan kedua geng yang sebelumnya bersitegang.
Dalam kesempatan itu, Kapolsek Ridwan tak hanya melerai, tetapi juga memberikan wejangan yang menyentuh. Ia mengingatkan para siswa bahwa masa depan mereka jauh lebih berharga daripada perselisihan. “Pintar saja tidak cukup,” tegasnya.
“Kalian juga harus memiliki etika dalam berbicara dan bersikap kepada guru dan orang tua.” Pesan ini menggema, mengingatkan para siswa bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka di rapor, tetapi juga tentang pembentukan karakter.
Peringatan yang lebih tegas datang dari Kanit Reskrim AIPTU Amrullah T., S.H. Ia menjelaskan bahwa meskipun masih di bawah umur, tindakan kriminal tetap memiliki konsekuensi hukum melalui sistem peradilan anak.
Ia menekankan bahwa catatan pelanggaran hukum dapat menjadi bumerang, menghalangi mereka meraih cita-cita, seperti menjadi bagian dari TNI, Polri, atau bekerja di perusahaan impian.
Suasana mediasi yang awalnya tegang perlahan mencair. Para siswa dari “Geng Kantin” dan “Geng Dara” saling menatap, bukan dengan amarah, tetapi dengan penyesalan. Di hadapan para guru dan polisi, mereka akhirnya saling memaafkan. Momen ini menjadi saksi bisu bahwa di balik kenakalan remaja, masih ada hati yang mau berdamai dan belajar.
Kepala Sekolah SMPN 2 Pajalele menyambut baik inisiatif Polsek Lembang. “Langkah cepat dan preventif ini sangat kami hargai,” ujarnya. Upaya persuasif dan edukatif dari pihak kepolisian ini tidak hanya mengakhiri konflik, tetapi juga membuka mata para pelajar tentang konsekuensi dari perbuatan mereka.
Kisah “Geng Kantin” dan “Geng Dara” di Pinrang kini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa sinergi antara sekolah dan pihak keamanan sangat krusial dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman. Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang sebuah harapan-harapan bahwa setiap pelajar berhak memiliki masa depan yang cerah, jauh dari bayang-bayang kenakalan remaja.(*)
Reporter: Faizal Lupphy.
















