Buntu Mararih, Bukit Seseorang Tanpa Kelamin

“Nur…,” Panggil Zahra dari kejauhan saat aku hampir sampai di hadapan pintu kelas. Yah… Zahra adalah sahabat karibku sejak pertama kali kami sama-sama mondok di Pesantren Abadi ‘Aisyah Parepare. Perihal apa saja kami saling membantu, tak terkecuali pada sesuatu tentang perasaan.

“Jika kau tanya laki-laki seperti apa yang kuidamkan?”, aku jawab; “dia seorang preman, seorang peminum, menyukai wanita, dan merasa dirinya tidak menyenangkan,” ujarku pada Zahra saat suatu ketika ia bertanya padaku tentang lelaki idaman. “Kok bisa gitu sich Nur?” tanya Zahra keheranan. “Zahra, entahlah..! hatiku merasa lelaki idamanku yah begitu… Cinta yang serius tidak membutuhkan beribu alasan kan?” jawabku sekenanya. “Aku hanya ingin menjadi Nur Hidayah, ‘cahaya petunjuk’ baginya,” bisikku dalam hati menatap langit kosong dari balik kaca jendela kamarku.

“Bagaimana dengan kamu Zahra, laki-laki seperti apa yang kau idamkan?” Tanyaku membuyarkan lamunannya yang sedang mengamati gambar seorang lelaki pada sebuah majalah yang diam-diam dibelinya beberapa hari lalu di Pasar Senggol. “Aku? kau tau sendiri kan? aku menyukai laki-laki seperti Muzammil Hasballah ini, sambil menunjukkan gambar lelaki yang dipegangnya itu. Andai jodoh dapat ditukar, aku ingin menggantikan posisi Sonia dihati Muzammil,” racaunya, aahhh dia mulai kacau lagi, tiap kali membahas Si Muzammil Hasballah itu dia pasti bertingkah aneh seolah aku tidak ada disampingnya. Macam-macam kelakuannya, hal paling sering Zahra tiba-tiba meniru-nirukan gaya Muzammil melantunkan ayat suci.

Sore dengan langit yang masih kosong dan senja yang masih jauh, seperti Zahra yang jauh dari Muzammil. Dalam kamar ini yang tersisa hanya kami dan cerita apa saja.

“Oohhh iya, Sebentar lagi kita liburan panjang, pekan ini kamu rencana kemana?” tanyaku pada Zahra. Mencoba menculiknya kabur dari cerita soal cinta dan itu berhasil. “Aku ingin pulang kampung saja deh, bersama kamu,  oh iya kamu kan sudah janji mengajakku mendaki ke Buntu Mararih yang kamu ceritakan kemarin itu. Jadi fix kan?” pintanya sambil merayu ala-ala upin-ipin ke ka’ Ros. “Ok dech.! Fix..,” kataku sambil berlalu keluar kamar mengacungkan jempolku padanya.

Tik Tak Tik Tak

Desa Tangru Kecamatan Malua Kabupaten Enrekang [Kampung]

Pagi-pagi sekali, dingin masih menusuk-nusuk menembus jilbab merk apa saja yang kami kenakan. Seusai subuh, Zahra telah bersiap depan rumah, tak sabar hendak mendaki. “Ayo.. Nur… let’s go….Mendaki kita,” semangatnya tak dingin seperti pagi ini. Kami berangkat.

Dalam perjalanan melihat semangat Zahra aku teringat oleh seorang laki-laki idamanku yang aku banget, sesuai dengan gambaranku pada Zahra. Namanya Rama, tetangga tujuh rumah kearah kanan dari rumahku. Saat ini ia santri di salah satu kota di Parahyangan, Jawa Barat. Bagiku, ia memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku untuk menjadi lelaki idamanku.

“Wei… wei….,” Zahra mengagetkanku. “Wei gah namamu,” katanya tepat dihadapanku dengan tawanya yang lebar. Kami telah keluar perbatasan kampung, melewati bebatuan dan kebun-kebun bawang menuju Buntu Mararih. Bebukitan yang menyimpan misteri pada puncaknya. Seorang laki-laki konon terkena kutukan kehilangan jenis kelaminnya dan menjadi patung di puncak gunung Buntu Mararih. Uniknya hanya jomblo yang bisa mendaki gunung tersebut, karena konon kepercayaan masyarakat sekitar pegunungan; siapa saja bisa jadi kembali jomblo bila melihat patung lelaki pada puncak bukit itu. Oya… satu lagi mitos Buntu Mararih; hindari mendaki sendiri karena kutukan itu bisa menular kepadamu, jadi jomblo seumur hidup. Mau?

Sebenarnya aku sangat ingin membuktikan hal tersebut. Lama sudah aku menunggu Rama kembali dan bersama-sama mendaki Buntu Mararih. Tentu saja setelah ia mengungkapkan cintanya padaku. Buat apa juga mendakinya bila kami masih sama-sama jomblo, misteri patung itu otomatis tidak bisa kami buktikan.

Tapi sudahlah, kesempatan pertama mendaki Buntu Mararih ini telah aku simpan lama untuk lelaki idamanku itu. Namun harus terpatahkan oleh Zahra, perempuan yang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada Muzammil. Mungkin sebaiknya lain waktu Zahra membawa Muzammil ke Buntu Mararih, siapa tau doanya menggantikan posisi Sonia dihati lelaki idamannya itu bisa terkabul.

***

Tik Tak Tik Tak

Buntu Mararih [Puncak]

Waktu mengalir begitu saja, menghempaskan ingatanku tentang Rama sepanjang perjalanan. Sebelumnya aku tak pernah menghendaki pendakian ke Buntu Mararih, namun setelah suatu waktu aku mendengarkan Rama mengutarakan kerinduan untuk mendaki Buntu Mararih, aku tiba-tiba saja jadi bersemangat ingin kesana, berdua dengannya, suatu hari nanti.

Tak terasa hampir sejaman kami melalui perjalanan. Puncak Buntuh Marari, hanya kami berdua. Zahra melepaskan seluruh kepenatannya, merentangkan tangannya menikmati pemandangan.

“Zahra punya hari,” teriaknya kearah angin, memantul padaku. Ia tersenyum bahagia akhirnya bisa mendaki denganku ungkapnya berdiri pada hadapan patung lelaki itu. Zahra memperhatikan patung itu baik-baik, tiba-tiba ia berteriak “Muzammil…” kearah patung lelaki itu.

“Hahahaha”, aku tertawa. Perlahan-lahan kami duduk menikmati apa saja pada puncak Buntu Mararih. “Indahnya ciptaanMu Tuhan, sejujurnya aku ingin menunjukkan tempat indah ini padamu, hambaMu yang kucinta, aku ingin kita bersama-sama menikmati karunia ini. Aku ingin bersusah-susah mendaki puncak ini besamamu. Wahai yang Maha Pengasih kutitip rinduku ini padaMu, biarlah Engkau yang menyampaikannya pada kekasihku itu,” batinku menikmati rindu yang kurasakan di Puncak Buntu Mararih.

Bersambung…

Nur Hidayah Karawati, Gadis Woles.

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda