MAKASSAR, PIJARNEWS.COM–Pagi yang cerah menyambut langkah para pegawai menuju lobi depan Teras Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Pemerintahan (Pusjar SKMP) LAN.
Area yang biasanya dilalui begitu saja, Jumat (11/7/2025), berubah menjadi ruang diskusi yang hangat. Suasana akrab menyelimuti sesi keempat dari Performance Talk Series atau PETIS, yang kali ini mengangkat tema penting: “BMN, Jangan Asal Pakai, Itu Milik Negara”.
Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif pembelajaran berbasis digital melalui platform corpu.asnunggul.lan.go.id sekaligus bentuk sinergi konkret Tim Pelayanan Administrasi Kantor dan Rumah Tangga (Tim Pak RT) Pusjar SKMP dalam meningkatkan literasi internal seputar pengelolaan aset negara.
Empat narasumber hadir dalam diskusi kali ini, yaitu T.E. Bimo Tunggul, SAP, M.Tr.A.P (Ketua RT Pusjar SKMP), Ns. Ahmad Amiruddin, S.Kep., Nurmila, A.Md, dan Sri Andari. Keempatnya membagikan pengalaman dan pandangan dari perspektif yang berbeda mengenai pemanfaatan BMN di unit kerja masing-masing.
Dalam pemaparannya, T.E. Bimo Tunggul menegaskan bahwa BMN tidak boleh diperlakukan tanpa perhatian.
“Laptop, proyektor, kendaraan dinas; itu semua bukan milik kita, negara mempercayakan itu untuk kita gunakan demi menjalankan tugas, bukan untuk disalahgunakan. Jangan hanya dipakai, tetapi rawat dan laporkan kondisi asset tersebut secara berkala,” jelasnya.
Menurut Bimo, banyak pegawai yang belum sepenuhnya memahami bahwa BMN memiliki siklus administrasi yang harus dijaga, mulai dari pencatatan, perawatan, hingga pelaporan kerusakan. Ia pun menekankan pentingnya melapor apabila BMN mengalami gangguan atau tidak digunakan sebagaimana mestinya.
“Kesadaran menjaga BMN adalah bagian dari integritas birokrasi. Ini bukan hanya soal barang, tetapi soal akuntabilitas kita sebagai aparatur negara,” ujarnya tegas.
Ns. Ahmad Amiruddin, S.Kep, membuka sesi pemaparan dengan menjelaskan dasar definisi BMN, yaitu semua barang yang pengadaannya bersumber dariAnggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menekankan bahwa keberadaan BMN bukan sekadar fasilitas kerja, tetapi bagian dari identitas negara yang harus dirawat.
“BMN adalahaset negara. Seperti halnya kita menjaga barang pribadi yang berharga, BMN pun perlu perhatian. Jangan sampai digunakan dalam kondisi rusak atau bahkan diabaikan begitu saja,” ujarnya.
Nurmila, A.Md dan Sri Andari mengajak peserta untuk melihat pengelolaan BMN tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga disiplin administrasi. Menurut mereka, budaya “asal pakai” harus digantikan dengan budaya lapor, catat, dan rawat. “Jangan tunggu rusak parah baru dilaporkan. Setiap unit kerja bisa mencegah kerugian negara dengan tertib administratif,” ungkap Nurmila.
Diskusi PETIS ini menjadi forum reflektif yang memantik kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga aset negara sebagai bentuk tanggungjawab bersama. Di tengah tantangan reformasi birokrasi dan efisiensi anggaran, kepedulianterhadap BMN menjadi salah satu indikator budaya kerja yang profesional.
“Mohon tidak memindahkan BMN dari ruangan tanpa sepengetahuan Tim RT. Terimakasih telah menjaga BMN.” Tegas Bimo, sebuah kalimat sederhana yang mengandung pesan besar bahwa setiap aparatur negara adalah penjaga asset publik,sekaligus menutup diskusi.
Pusjar SKMP LANmelalui kegiatan ini menegaskan bahwa pengelolaan Barang Milik Negara (BMN) bukan semata tugas satu unit kerja, melainkan tanggungjawab bersama seluruh pegawai. Budaya “asal pakai” tanpa kepedulian hanya akan mempercepat kerusakan aset dan merugikan institusi secara keseluruhan.
Kepedulian terhadap BMN mencerminkan profesionalisme aparatur serta komitmen nyata terhadap keberlanjutan pelayanan publik. (*)
Citizen Reporter: Adekamwa (Humas Pusjar SKMP LAN)
















