Berita Ramah Anak Menghindari Narasi Sadistik dan Seksual

 

MAKASSAR, PIJARNEWS.COM— Membuat berita, harus mempertimbangkan dampak psikologis anak. Oleh karena itu, Dewan Pers bekerja sama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), membuat pedoman berita yang ramah anak.

Itu diungkap Wakil Ketua Dewan Pers, Hendri Ch Bangun dalam Sosialisasi Pedoman Pemberitaan Ramah Anak di Hotel Santika, Makassar, Rabu, 7 Agustus 2019.

Menurut Hendri, sebuah berita ramah anak harus memiliki nuansa positif, berempati, serta bertujuan melindungi hak, harkat dan martabat.

“Jangan membuat deskripsi, narasi dan rekonstruksi peristiwa seksual dan sadistik,” ungkap Hendri.

Bukan hanya itu lanjut Hendri, berita tentang prestasi pun bisa berdampak psikologis anak.

“Misalnya ada anak yang berprestasi dan diwawancarai media dengan jadwal yang padat. Ini bisa membuat anak kelelahan dan overekspose,” ujarnya.

Sementara itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) harus terus melakukan revisi, demi memberikan perlindungan maksimal.

Demikian disampaikan Staf Ahli Kementerian PPPA Bidang Komunikasi Pembangunan, Ratna Susianawati, dalam Sosialisasi Pedoman Pemberitaan Ramah Anak di Hotel Santika, Makassar.

Menurut Ratna, Undang-undang Perlindungan Anak direvisi mulai dari UU Nomor 23 Tahun 2002, lalu direvisi jadi UU 35 tahun 2014, dan terakhir UU Nomor 17 tahun 2016.

“Revisi itu dilakukan untuk memaksimalkan perlindungan anak, terutama pemberatan hukuman bagi pelaku pelecehan seksual terhadap anak,” ungkapnya.

Dalam kegiatan yang dipandu Anti dari Dinas Pemberdayan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulsel, Ratna menambahkan, ada 15 anak yang mendapat perlindungan khusus. Termasuk di dalamnya, anak yang hidup dalam jaringan terorisme. (*)

Sumber: rakyatku.com
Editor: Dian Muhtadiah Hamna

Bagikan :

Komentar

Komentar Anda