toto

toto

Situs Toto

Situs Toto

Togel Online

toto

  • Tentang Kami
  • Tim Pijarnews
  • Kerjasama
Minggu, 25 Januari, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan
Pijar News
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Opini

Bencana Ini Tak Datang Sendiri

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
19:21, 05 Desember 2025
di Opini
Waktu Baca: 3 menit
Bencana Ini Tak Datang Sendiri

(Oleh: Muh Fahrul Ananta/Mahasiswa Ekonomi Syariah IAIN Parepare)

Indonesia memiliki pulau-pulau besar seperti Sumatra dan Kalimantan, selama puluhan tahun dikenal kaya akan hutan tropis paru-paru dunia, rumah bagi keanekaragaman hayati, dan benteng alami yang menjaga keseimbangan ekosistem. Namun data terbaru menunjukkan betapa hutan kita semakin merosot.Pada tahun 2024, luas deforestasi netto di Indonesia tercatat sebesar 175.400 hektare.Meskipun ada upaya reforestasi rehabilitasi hutan dan lahan seluas 217.900 hektare kenyataannya tutupan hutan terus berkurang, terutama di hutan sekunder, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan resmi.

Hutan bukan sekadar kumpulan pohon.Ia adalah sistem kehidupan penyimpan air, penahan erosi, pengatur iklim lokal, pelindung habitat satwa, dan penopang keberlanjutan generasi manusia. Ketika hutan dibabat tanpa kontrol dan sungai-sungai hulu kehilangan tutupan, maka “perisai” alam itu runtuh.Baru-baru ini kita saksikan sendiri konsekuensinya: di pulau Sumatra, hujan ekstrem disertai badai tropis memicu banjir dan longsor besar yang menewaskan ratusan jiwa. Banyak saksi melaporkan bahwa banjir membawa serta gelondongan kayu bukti nyata bahwa area hutan baru saja ditebang dan kemudian hanyut terbawa arus.

Bencana dahsyat yang melanda Sumatra belakangan ini bukan sekadar berita duka yang lewat di layar televisi dan berita.Ini merupakangambaran dari kerusakan lingkungan yang selama ini kita abaikan. Dalam dua pekan terakhir, banjir bandang, longsor, hingga aliran lahar hujan menghantam sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, meninggalkan jejak kehancuran yang begitu mengerikan…
Berdasarkan laporan BNPB, SAR, dan pemerintah daerah hingga penutupan operasi tanggap darurat: Lebih dari 770 jiwa meninggal dan 463 hilang. Ribuan rumah hancur, beberapa tersapu bersih tanpa jejak.Jembat bendungan dan fasilitas pendidikan turut kena dampak juga, menyebabkan daerah-daerah terisolasi.Angka ini bukan sekadar statistik.Ini adalah ratusan keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih, masa depan yang terputus, dan masyarakat yang harus memulai hidup dari nol.

Dampak Ekologis yang Terlihat Jelas

Baca Juga

Kalimantan Timur, Antara Bencana Hidrometeorologi dan Ekologis

Asap Rokok Mengganggu Kehidupan Kampus

Bencana ini membuka kenyataan pahit bahwa daerah hulu sungai mengalami degradasi berat, sebagian besar akibat pembalakan dan pembukaan lahan baru.Satwa liar semakin terdesak, terutama di Sumatera yang menjadi habitat Harimau Sumatra, Gajah Sumatra, dan spesies endemik lain yang kini nyaris kehilangan rumah. Struktur tanah yang dulunya kuat telah melemah, membuat lereng gunung dan bukit mudah runtuh saat hujan deras.Setiap kayu besar yang terbawa arus banjir adalah bukti bahwa hutan yang seharusnya menjadi penyerap air dan penahan erosi, kini berubah menjadi lahan kosong yang tak lagi punya daya.

Ini bukan hanya “sengatan” sekali ini ancaman struktural terhadap kehidupan, lingkungan, dan keamanan masyarakat banyak. Ketika bencana datang, sering kita dengar narasi bahwa alam tiba-tiba “marah” hujan deras, angin kencang, tanah longsor seakan-akan alam sendiri yang harus disalahkan. Namun faktanya, bencana besar ini bukan hanya akibat cuaca ekstrem. Banyak ilmuwan, aktivis, dan warga lokal menegaskan penyebab sesungguhnya: deforestasi masif, proyek ekstraktif di hulu sungai, alih fungsi lahan, dan izin konsesi yang terus diberikan tanpa mempertimbangkan aspek ekologis.

Artinya, tanggung jawab utama ada pada manusianya terutama pada mereka yang membuat kebijakan, mengeluarkan izin, memutuskan pembangunan yang merusak hutan, serta pada mereka yang seharusnya menjaga dan mengawasi pengelolaan hutan.Kalau kita terus membiarkan pembalakan hutan legal maupun ilegal konversi lahan besar-besaran, dan proyek infrastruktur ekstraktif tanpa perhitungan lingkungan, maka bencana bukan lagi kemungkinan tapi keniscayaan.Bencana ini menunjukkan bahwa pemerintah, terutama kementerian dan lembaga yang mengatur lingkungan hidup dan kehutanan, telah gagal menjalankan amanat konstitusi.Padahal, dasar hukum sudah sangat jelas.
Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945:
Bumi dan air harus dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, bukan memperkaya segelintir pemegang konsesi.
UU No. 41/1999 tentang Kehutanan:
Negara wajib menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional.
Secara formal, regulasi pengelolaan hutan di Indonesia telah ada menata kawasan hutan, membatasi alih fungsi lahan, melarang pembalakan liar, dan mendukung reforestasi. Namun kenyataan menunjukkan bahwa regulasi itu belum cukup baik dalam hal pengawasan, penegakan hukum, maupun keberpihakan terhadap fungsi ekologis
Ayolah saya tidak menyalahkan alam yang cuacanya tidak bisa ditebak karena itu kehendak tuhan, saya hanya sangat menyayankan perizinan oleh tambang dan penebang pohon yang dimana mana, tapi mereka suka mengelak dengan dalih tak tahu dan tidak pernah memberi izin, ayolah hahaha, apakah ini merupakan hal tertutup ?, padahal penambang atau tambang dan penebang pohon terang terangan dilakukan apakah kordinasi desa ke pusat tak terkordinasi dengan baik, atau sekongkol demi cuan ezz…
Berbenahlah secepatnya negaraku, jangan sampai kejadian ini berulang lagi, jangan merusak tempat tinggal mereka demi kepentingan duniamu…..(*)

Terkait: Bencana AlamOpini

BERITA TERKAIT

Kalimantan Timur, Antara Bencana Hidrometeorologi dan Ekologis

Kalimantan Timur, Antara Bencana Hidrometeorologi dan Ekologis

16 Januari 2026
Asap Rokok Mengganggu Kehidupan Kampus

Asap Rokok Mengganggu Kehidupan Kampus

10 Januari 2026

10 Januari 2026
Diskriminasi Pelayanan BPJS dalam Perspektif Kode Etik ASN dan Etika Kesehatan

Diskriminasi Pelayanan BPJS dalam Perspektif Kode Etik ASN dan Etika Kesehatan

9 Januari 2026
Menangisi Deforestasi

Menangisi Deforestasi

8 Januari 2026
Dinamika Lembaga Kemahasiswaan : Krisis Makna Berlembaga

Dinamika Lembaga Kemahasiswaan : Krisis Makna Berlembaga

7 Januari 2026
Selanjutnya
Edukasi Sejarah dan Religi, Sekretaris UMPAR Ucapkan Milad Muhammadiyah di Makam KH Ahmad Dahlan

Edukasi Sejarah dan Religi, Sekretaris UMPAR Ucapkan Milad Muhammadiyah di Makam KH Ahmad Dahlan

Berita Terbaru

Bikin Heboh, Ular Piton 3,5 Meter Sembunyi di Kap Mobil

Bikin Heboh, Ular Piton 3,5 Meter Sembunyi di Kap Mobil

23 Januari 2026
Temui Pemkot Balikpapan, Wali Kota Parepare Bahas Pengembangan Ekonomi Daerah

Temui Pemkot Balikpapan, Wali Kota Parepare Bahas Pengembangan Ekonomi Daerah

23 Januari 2026
Layanan Ramah dan Menu Premium, Catering Dapur Nusantara Tuai Pujian Bupati Sidrap

Layanan Ramah dan Menu Premium, Catering Dapur Nusantara Tuai Pujian Bupati Sidrap

23 Januari 2026
Dari Rapat hingga Outbound, FISIP UMS Rappang Perkuat Soliditas Dosen di Malino

Dari Rapat hingga Outbound, FISIP UMS Rappang Perkuat Soliditas Dosen di Malino

23 Januari 2026
Pameran Produk Olahan Susu Kambing, Wujud Komitmen Aplikatif dan Daya Saing Mahasiswa Peternakan Unibos

Pameran Produk Olahan Susu Kambing, Wujud Komitmen Aplikatif dan Daya Saing Mahasiswa Peternakan Unibos

22 Januari 2026
Tour Preneur Bidang Ekowir PIKOM IMM FISIP Berkunjung ke  Nutrihub Makassar

Tour Preneur Bidang Ekowir PIKOM IMM FISIP Berkunjung ke Nutrihub Makassar

22 Januari 2026
Rakerda TP PKK Parepare Jadi Momentum Awal Penyusunan Program Kerja Sepanjang 2026

Rakerda TP PKK Parepare Jadi Momentum Awal Penyusunan Program Kerja Sepanjang 2026

22 Januari 2026
Jembatan Rusak di Mattiro Sompe, Bupati Pinrang Minta OPD Bergerak Cepat

Jembatan Rusak di Mattiro Sompe, Bupati Pinrang Minta OPD Bergerak Cepat

21 Januari 2026
Wali Kota Parepare Buka Peluang Investor Kelola Gedung Eks CU

Wali Kota Parepare Buka Peluang Investor Kelola Gedung Eks CU

21 Januari 2026
Mattiro Sompe Juara Umum MTQ ke-34 Pinrang, Ungguli Tuan Rumah

Mattiro Sompe Juara Umum MTQ ke-34 Pinrang, Ungguli Tuan Rumah

21 Januari 2026

Artikel Lainnya

Media Online Pijar News ini Telah Terverifikasi secara Administratif dan Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang
  • Redaksi
  • Advertise
  • Kebijakan Privacy
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Pemberitaan
  • Perlindungan Wartawan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.