Oleh : Nur Ilham
(Ketua Umum PC IPM Pao Tombolo Periode 2021-2023 )
Bulan depan, festival tahunan Beautiful Malino kembali digelar. Spanduk, baliho, dan flyer sudah menghiasi sudut-sudut kota. Panggung musik, parade budaya, dan festival bunga siap memanjakan mata ribuan wisatawan. Tapi di balik gemerlap itu, kita sedang menutup mata pada kenyataan pahit: Malino kini tidak lagi seindah namanya.
Malino yang dulu dikenal sejuk, hijau, dan membanggakan Sulawesi Selatan kini menghadapi krisis lingkungan. Hutan ditebang demi vila dan resort. Sumber air mengering, udara segar terganti polusi. Pembangunan berjalan tanpa arah, tanpa kendali, dan nyaris tanpa pengawasan. Ironisnya, semua itu dibungkus dalam festival yang katanya merayakan keindahan.
Masyarakat merasakan langsung dampaknya. Mata air yang dulunya menghidupi warga kini mengering. Petani di kaki gunung mengeluh harus membeli air galon untuk kebutuhan sehari-hari. Udara dingin khas Malino yang dulu menusuk kulit, kini digantikan hawa panas dan debu akibat perambahan hutan. Budaya lokal kian tersisih, lahan-lahan adat dan tempat bermain anak kini dipagari tembok vila-vila mewah.
Saya percaya Beautiful Malino tidak boleh hanya menjadi ajang seremonial tahunan. Festival ini harus jadi momentum perbaikan nyata. Beberapa langkah konkret yang seharusnya dilakukan pemerintah daerah dan semua pihak adalah:
* Moratorium izin pembangunan baru hingga revisi tata ruang dilakukan.
* Audit menyeluruh atas izin usaha yang merusak lingkungan, dan cabut yang melanggar.
* Pemulihan hutan dan mata air melalui gerakan bersama, bukan hanya taman hias sementara.
* Memberikan ruang utama kepada masyarakat lokal sebagai penggerak pariwisata berkelanjutan.
* Transparansi pengambilan keputusan terkait pembangunan agar masyarakat tidak lagi hanya jadi penonton.
Kita tidak boleh bangga dengan festival megah jika di balik itu kita tengah menggali kubur untuk Malino. Jangan sampai anak cucu kita hanya mengenal Malino lewat foto-foto lama, sementara yang tersisa hanyalah puing-puing alam yang rusak.
Jika bukan kita yang bergerak, siapa? Jika bukan sekarang, kapan?
Jangan biarkan Malino mati karena kelalaian kita sendiri. (*)



















