• Tentang Kami
  • Tim Pijarnews
  • Kerjasama
Minggu, 7 Desember, 2025
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan
Pijar News
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Opini

Anak Sekolah dan Bunuh Diri: Kegagalan Sistem Sekuler

Oleh: Fath A. Damayanti, S.Si (Pemerhati Lingkungan dan Politik)

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
08:10, 10 November 2025
di Opini, Pendidikan
Waktu Baca: 3 menit
Anak Sekolah dan Bunuh Diri: Kegagalan Sistem Sekuler

 

Kasus bunuh diri anak sekolah terjadi dalam sepekan terakhir sebagaimana terjadi di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, dua kejadian siswa sekolah mengakhiri hidup atau bunuh diri di dua sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dimana siswi kelas VIII MTs, ditemukan tewas tergantung di rumahnya. Kasus yang sama juga terjadi di Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta dan di Kota Denpasar, Bali, dimana seorang anak yang masih duduk di bangku SMP juga mengakhiri hidupnya (kompas.id, 2/11/2025).

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada 46 kasus bunuh diri anak di tahun 2024 dan 25 kasus di tahun 2025 dengan dugaan kuat berkaitan dengan perundungan. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (30/10/2025), mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang menunjukkan lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami berbagai bentuk gangguan mental. Data ini diperoleh dari sekitar 20 juta jiwa yang sudah diperiksa.

Menurut Josephine Elia, MD, Sidney Kimmel Medical College of Thomas Jefferson University
(Ditinjau Oleh Alicia R. Pekarsky, MD, State University of New York Upstate Medical University, Upstate Golisano Children’s Hospital Mei 2023, dimodifikasi Juli 2025), anak-anak dan remaja yang mencoba bunuh diri terkadang marah dengan anggota keluarga atau teman, tidak dapat menoleransi kemarahan, dan membalikkan kemarahan terhadap diri mereka sendiri.

Honest Card

Mereka mungkin ingin memanipulasi atau menghukum orang lain. Kesulitan berkomunikasi dengan orang tua mereka dapat menimbulkan risiko bunuh diri. Terkadang perilaku bunuh diri terjadi ketika anak meniru tindakan orang lain. Misalnya, bunuh diri yang ramai dipublikasikan, seperti bunuh dirinya selebriti, sering diikuti dengan bunuh diri atau percobaan bunuh diri orang lainnya.

Baca Juga

Bencana Ini Tak Datang Sendiri

RT/RW dalam Pusaran Klientelisme

Demikian pula, perilaku meniru bunuh diri terjadi di sekolah. Bunuh diri lebih mungkin terjadi pada keluarga dengan gangguan suasana hati yang umum terjadi, terutama jika ada riwayat keluarga yang bunuh diri atau perilaku kekerasan lainnya. Gangguan mental dan gangguan fisik lainnya juga dapat meningkatkan risiko bunuh diri.

Adanya kasus bunuh diri di kalangan pelajar ini nyatanya tidak selalu karena perundungan (bullying). Rapuhnya kepribadian remaja juga menjadi faktor yang mendorong terjadinya bunuh diri. Gaya hidup dan kemajuan teknologi tak pelak menjadikan generasi mengikuti segala hal yang viral tanpa ada filter, tidak mampu membedakan mana aktivitas yang dibenarkan mana aktivitas yang salah. Hal ini karena tergerusnya akidah pada anak-anak, tidak optimalnya pemahaman agama nyatanya berpengaruh pada kepribadian anak. Pendidikan saat ini berorientasi pada prestasi, kurikulumnya pun berbasis sekuler dimana agama diabaikan. Pendidikan agama yang diajarkan di sekolah-sekolah juga hanya sekedar memenuhi kewajiban dalam kurikulum tanpa meninggalkan pengaruh yang menjasad pada anak.

Sedangkan di luar sekolah, pemenuhan pendidikan agama diserahkan oleh orang tua kepada Taman Pendidikan Al Quran (TPA) atau guru-guru ngaji tanpa adanya pendidikan dan pemahaman dari orang tua. Kesibukan orang tua juga membuat anak-anak kehilangan peran orang tuanya dalam kehidupan, akhirnya mencari perhatian di luar rumah bahkan memberontak dan berperilaku yang berbeda di luar dan di dalam rumah.

Bunuh diri adalah puncak dari gangguan kesehatan mental. Gangguan mental adalah buah berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari kesulitan ekonomi, konflik orang tua termasuk perceraian, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. Hal ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Berbagai faktor tersebut termasuk faktor non klinis yang mempengaruhi gangguan mental. Paparan media sosial terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang semakin banyak mendorong remaja dan anak-anak makin rentan bunuh diri.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan Islam, dimana Islam memandang anak adalah amanah, yang wajib dipenuhi haknya, dipenuhi kebutuhannya dan diperlakukan secara baik. Ayah sebagai kepala keluarga mempunyai kewajiban dalam hal pemenuhan nafkah sedangkan ibu sebagai pendidik pertama dan utama untuk anak-anaknya.

Perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggungjawab keluarga, tetapi juga menjadi tanggungjawab negara. Negara memiliki tanggungjawab sebagai pengayom, pelindung, dan perisai bagi keselamatan seluruh rakyatnya, demikian juga anak.

Nasib anak menjadi kewajiban negara untuk menjaminnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Masyarakat pun berperan dalam menciptakan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan anak, dan senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam Islam pun bunuh diri hukumnya haram, Allah SWT berfirman dalam Surat An Nisa ayat 29: “… Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” Rosulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR Bukhari dan Muslim).

Islam memiliki mekanisme terbaik dalam memberikan perlindungan anak melalui berbagai cara. Dalam hal sanksi, Negara Islam akan menerapkan sanksi yang tegas dan menjerakan bagi semua pihak yang melakukan tindak kekerasan terhadap anak sehingga kejahatan atau tindak kriminalitas tidak akan terus berulang. Asas akidah Islam pun akan menjadikan semua individu memahami kewajibannya melindungi anak.

Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan mental, sekaligus menyolusi persoalan ini secara tuntas, karena Islam mewujudkan kebaikan pada aspek non klinis, seperti jaminan kebutuhan pokok, keluarga harmonis, juga arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan. Kurikulum pendidikan dalam Islam memadukan penguatan kepribadian Islami dengan penguasaan kompetensi ilmu. Sehingga murid mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara syar’i.

Dengan adanya pengaturan dalam Islam yang diterapkan secara keseluruhan maka anak akan terlindungi dan akan menjadi generasi emas yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik atas asas akidah Islam.

Wallahua’lam bishawab

Terkait: anak sekolahOpini

BERITA TERKAIT

Bencana Ini Tak Datang Sendiri

Bencana Ini Tak Datang Sendiri

5 Desember 2025
RT/RW dalam Pusaran Klientelisme

RT/RW dalam Pusaran Klientelisme

2 Desember 2025
Ketika Pemberdayaan Berubah Arah: Antara UMKM dan Krisis Identitas Perempuan Muslimah

Ketika Pemberdayaan Berubah Arah: Antara UMKM dan Krisis Identitas Perempuan Muslimah

2 Desember 2025
Piring Gizi Anakku Dijual Murah: Kapitalisme yang Menguasai Dapur Sekolah

Piring Gizi Anakku Dijual Murah: Kapitalisme yang Menguasai Dapur Sekolah

30 November 2025
Krisis Sudan dan Kepentingan Barat: Alarm Persatuan Negeri Muslim

Krisis Sudan dan Kepentingan Barat: Alarm Persatuan Negeri Muslim

10 November 2025
Generasi Digital, Pahlawan Tanpa Senjata

Generasi Digital, Pahlawan Tanpa Senjata

10 November 2025
Selanjutnya
Krisis Sudan dan Kepentingan Barat: Alarm Persatuan Negeri Muslim

Krisis Sudan dan Kepentingan Barat: Alarm Persatuan Negeri Muslim

Berita Terbaru

Edukasi Sejarah dan Religi, Sekretaris UMPAR Ucapkan Milad Muhammadiyah di Makam KH Ahmad Dahlan

Edukasi Sejarah dan Religi, Sekretaris UMPAR Ucapkan Milad Muhammadiyah di Makam KH Ahmad Dahlan

5 Desember 2025
Bencana Ini Tak Datang Sendiri

Bencana Ini Tak Datang Sendiri

5 Desember 2025
Lapor Pak Wali dan Semangat Baru Pelayanan Publik di Parepare

Lapor Pak Wali dan Semangat Baru Pelayanan Publik di Parepare

4 Desember 2025
Bagian Program Bimbingan Karier, Siswa Kelas 12 SMA Bosowa School Makassar  Internship Program

Bagian Program Bimbingan Karier, Siswa Kelas 12 SMA Bosowa School Makassar Internship Program

3 Desember 2025
Magang di Taiwan, Mahasiswa UMS Rappang Bawa Pulang Ilmu Berharga dan Uang Saku 40 Juta

Magang di Taiwan, Mahasiswa UMS Rappang Bawa Pulang Ilmu Berharga dan Uang Saku 40 Juta

3 Desember 2025
Disaksikan Kasatgas KPK, Pemkot Parepare Perkuat Kolaborasi APIP dan APH Cegah Korupsi

Disaksikan Kasatgas KPK, Pemkot Parepare Perkuat Kolaborasi APIP dan APH Cegah Korupsi

2 Desember 2025
RT/RW dalam Pusaran Klientelisme

RT/RW dalam Pusaran Klientelisme

2 Desember 2025
Ketika Pemberdayaan Berubah Arah: Antara UMKM dan Krisis Identitas Perempuan Muslimah

Ketika Pemberdayaan Berubah Arah: Antara UMKM dan Krisis Identitas Perempuan Muslimah

2 Desember 2025
Tasming Hamid Tegaskan Komitmen Perkuat Pendidikan

Tasming Hamid Tegaskan Komitmen Perkuat Pendidikan

1 Desember 2025
Kantongi Izin Kementerian Taiwan, Dua Mahasiswa UMS Rappang Siap Magang Internasional

Kantongi Izin Kementerian Taiwan, Dua Mahasiswa UMS Rappang Siap Magang Internasional

1 Desember 2025

Artikel Lainnya

Media Online Pijar News ini Telah Terverifikasi secara Administratif dan Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang
  • Redaksi
  • Advertise
  • Kebijakan Privacy
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Pemberitaan
  • Perlindungan Wartawan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.