toto

toto

Situs Toto

Situs Toto

Togel Online

toto

  • Tentang Kami
  • Tim Pijarnews
  • Kerjasama
Rabu, 21 Januari, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan
Pijar News
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Utama Budaya dan Sastra

Anak Anda Egois, Ajari Ia Mallongga

Abdillah MS Editor: Abdillah MS
00:55, 07 April 2019
di Budaya dan Sastra, Opini
Waktu Baca: 3 menit
Anak Anda Egois, Ajari Ia Mallongga

OPINI, PIJARNEWS.COM — Semuanya masih terekam dalam ingatan, dan terpatri begitu kuat, bagaimana dulu saya menghabiskan masa kecil di kampung halaman. Bahkan nyaris, kelezatan  masakan ibu saya abaikan, karena ingin bermain usai jam sekolah. Begitupun ajakan untuk mengaji di surau atau “perintah” tidur siang, kerap kami tak patuhi, akibat godaan bermain dengan teman sebaya.

Menjadi peserta dalam sebuah permainan tradisional, seperti Malongga (Berjalan dengan bambu), Maggoli (Bermain kelereng), Makkacubbu (Petak Umpet), Mappacamali mali (Bermain di arus sungai saat banjir), ma’temba temba (main perang perangan) adalah kebanggaan. Meski itu tanpa pengakuan, tanpa piala, tanpa sertifikat yang berstempel nasional, maupun internasional. Tapi, kami bahagia dan bangga.

Permainan-permainan itu memang dibingkai dengan persaingan, namun itu sehat. Saat permainan usai, semuanya kembali dalam tawa ria. Tak ada dendam ataupun amarah. Sebab esok harinya, lawan bermain kami, menjadi teman kami dalam permainan lainnya.

Uniknya, saat menentukan kelompok bermain, tak ada yang mengatur atau rekayasa dan tendensi. Siapa memilih siapa. Mengalir begitu saja. Lalu semuanya tenggelam dalam irama permainan. Lalu bubar serentak, saat adzan mengalun dari bilik surau.

Kini, jenis permainan itu sudah jarang ditemui. Bahkan terkesan sudah hilang. Tak lagi ada riuh anak-anak bermain di pelataran masjid, atau teriakan bocah lincah, di bawah kolong rumah kayu, maupun di bantaran sungai.

Baca Juga

Kalimantan Timur, Antara Bencana Hidrometeorologi dan Ekologis

Asap Rokok Mengganggu Kehidupan Kampus

Jika direnungi lebih jauh, permainan permainan tradisional di atas, memang tak membutuhkan sisi kognitif dalam porsi besar. Lebih dominan sisi psikomotrik, dan afektif. Lebih mengutamakan sikap dan skill atau nilai dan kemampuan. Dan lebih mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang memiliki tenggang rasa.

Maka tak heran, karakter mereka dengan konsep bermain permainan tradisional, masih mengutamakan nilai sipakainge. Seperti, saat salah seorang teman mereka terjatuh dan terluka saat bermain. Mereka tak egois. Bahkan kerap permainan usai begitu saja, saat salah seorang rekan bermain atau “lawan” main mereka, mengalami insiden tertentu.

Itu adalah bentuk kepedulian. Karena semuanya tidak fokus pada hasil permainan. Lebih mengindahkan kebersamaan (proses), dibanding hasil akhir. Dan lagi lagi, itu adalah bentuk keprihatinan.

Berbeda dengan konsep permainan “Game” khususnya di ponsel cerdas saat ini. Bisa bermain dengan berbagai fitur permainan, meskipun sendiri. Tak butuh orang lain. Tak perlu bersosialisasi.

Rata rata permainan lebih menonjolkan hasil akhir. Lebih menekankan hasil ketimbang proses. Tak ada tenggang rasa, ataupun menolong.

Kini semuanya terganti, dengan permainan mengandalkan tekhnologi. Dan menjadi penyebab anak anak saat ini, lebih peduli dengan kecanggihan tablet, dan android miliknya (up to date), ketimbang memperhatikan lingkungan sosialnya.

Maka tak heran, jika anak anak itu kelak akan tumbuh sebagai pribadi yang tidak acuh dengan sekitarnya. Bermasa bodoh dengan lingkungan sosialnya. Egois dengan kondisi tetangganya.

Ironisnya, semua itu seolah didukung dengan sikap orang tua masa kini. Bahkan menjadi tren, orang tua saat ini, baru menganggap  prestasi, jika si anak sudah sudah mampu menyodorkan lembaran kertas (sertifikat), dari berbagai even.

Bukan saat mereka mampu memberikan pertolongan kepada sesama hamba, atau makhluk. Saya khawatir, menolong itu tak lagi dianggap, karena tak bersertifikat. Dan saya lebih takut lagi, jika itu menjadi kebiasaan “ habitus”.

Orang tua juga sepertinya lebih mengiyakan, saat anaknya merengek agar tanggal kelahirannya (ulang tahun), diperingati dengan meriah. Ketimbang mengajari anaknya, untuk bersosialisasi dan mengulurkan tangan bagi kaum marginal, atau kaum yang tersisih oleh kebijakan memihak.

Kejadian di atas mengingatkan saya dengan teori habitus yang diperkenalkan oleh Bourdieu. Bahwa kebiasaan “Struktur mental atau kognitif” yang digunakan actor untuk menghadapi kehidupan sosial. Dimana kebiasaan merekalah yang akan menjadi frame, dan digunakan untuk merasakan memahami, menyadari dunia sosialnya.  

Jika sejak kecil anak anak kita tak pernah diajarkan tolong menolong, tak diajarkan kepedulian kepada sesama, khususnya dalam dunia bermain, maka kelak mereka akan menjadi pribadi pribadi dan penerus bangsa yang egois. Tak peduli dengan ketimpangan ketimpangan sosial.

Maka akan bijak wahai para orang tua, jika anda memperkenalkan kepada anak anak akan permainan tradisional, seperti Malongga (Berjalan dengan bambu), Maggoli (bermain kelereng), Makkacubbu (Petak Umpet), Mappacamali mali (Bermain di arus sungai saat banjir), Ma’temba temba (main perang perangan). Karena disitu ada nilai tenggang rasa, ada nilai tolong menolong, dan tentu mereka dilatih untuk peduli kepada sesama. (*)

Penulis: Akhwan Ali

Mahasiswa (S3) Sosiologi Universitas Negeri Makassar

Terkait: Akhwan AliAnakEgoisMahasiswa S3MallonggaOpiniPermainan TradisionalUniverstas Negeri Makassar

BERITA TERKAIT

Kalimantan Timur, Antara Bencana Hidrometeorologi dan Ekologis

Kalimantan Timur, Antara Bencana Hidrometeorologi dan Ekologis

16 Januari 2026
Asap Rokok Mengganggu Kehidupan Kampus

Asap Rokok Mengganggu Kehidupan Kampus

10 Januari 2026

10 Januari 2026
Diskriminasi Pelayanan BPJS dalam Perspektif Kode Etik ASN dan Etika Kesehatan

Diskriminasi Pelayanan BPJS dalam Perspektif Kode Etik ASN dan Etika Kesehatan

9 Januari 2026
Menangisi Deforestasi

Menangisi Deforestasi

8 Januari 2026
Dinamika Lembaga Kemahasiswaan : Krisis Makna Berlembaga

Dinamika Lembaga Kemahasiswaan : Krisis Makna Berlembaga

7 Januari 2026
Selanjutnya
Hebat, GAS Sidrap Lolos ke Babak Lanjutan Speed CQB di Makassar

Hebat, GAS Sidrap Lolos ke Babak Lanjutan Speed CQB di Makassar

Berita Terbaru

Wali Kota Parepare Buka Peluang Investor Kelola Gedung Eks CU

Wali Kota Parepare Buka Peluang Investor Kelola Gedung Eks CU

21 Januari 2026
Mattiro Sompe Juara Umum MTQ ke-34 Pinrang, Ungguli Tuan Rumah

Mattiro Sompe Juara Umum MTQ ke-34 Pinrang, Ungguli Tuan Rumah

21 Januari 2026
Hari Bhakti Imigrasi ke-76, Wali Kota Parepare Apresiasi Dedikasi Jajaran Imigrasi

Hari Bhakti Imigrasi ke-76, Wali Kota Parepare Apresiasi Dedikasi Jajaran Imigrasi

21 Januari 2026
Atlet Sidrap Juarai Pickleball Kuliner Open Tournament di Wajo

Atlet Sidrap Juarai Pickleball Kuliner Open Tournament di Wajo

21 Januari 2026
Rakernas Apkasi Ditutup, Bupati Sidrap Komitmen Dukung Agenda Nasional

Rakernas Apkasi Ditutup, Bupati Sidrap Komitmen Dukung Agenda Nasional

21 Januari 2026
Bupati Sidrap Hadiri Raker Bersama Kepala Daerah se Indonesia di Batam

Bupati Sidrap Hadiri Raker Bersama Kepala Daerah se Indonesia di Batam

20 Januari 2026
Bongkar Sindikat Love Scamming di Tangerang, Imigrasi Amankan 27 WNA

Bongkar Sindikat Love Scamming di Tangerang, Imigrasi Amankan 27 WNA

19 Januari 2026
Musrenbang RKPD 2027, Pemkot Parepare Bakal Fokus Kesejahteraan Rakyat

Musrenbang RKPD 2027, Pemkot Parepare Bakal Fokus Kesejahteraan Rakyat

19 Januari 2026
PD IPIM Dilantik, Wali Kota Ungkap Ingin Jadi Pejabat di Parepare Harus Bisa Mengaji

PD IPIM Dilantik, Wali Kota Ungkap Ingin Jadi Pejabat di Parepare Harus Bisa Mengaji

17 Januari 2026
Bupati Sidrap Lepas Pengiriman Puluhan Ton Telur ke Kalimantan, Sultra, dan Makassar

Bupati Sidrap Lepas Pengiriman Puluhan Ton Telur ke Kalimantan, Sultra, dan Makassar

17 Januari 2026

Artikel Lainnya

Media Online Pijar News ini Telah Terverifikasi secara Administratif dan Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang
  • Redaksi
  • Advertise
  • Kebijakan Privacy
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • Pedoman Pemberitaan
  • Perlindungan Wartawan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nasional
  • Ajatappareng
  • Pijar Channel
  • Sulselbar
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Opini
  • Teknologi
  • Kesehatan

©2016 - 2025. Hak Cipta oleh PT. Pijar Media Global.