Oleh: Rizki Putra Dewantoro, M.Si (Kader Muhammadiyah)
Di tengah gelombang disrupsi digital yang semakin meluas, kemampuan koding atau pemrograman komputer telah berubah menjadi keterampilan dasar yang esensial dalam kehidupan modern. Setiap kali kita menggunakan aplikasi di ponsel, baik untuk komunikasi, media sosial, maupun bermain game, kita sebenarnya tengah berinteraksi langsung dengan kode. Begitu pula saat membaca berita daring, berbelanja online, atau menonton video, semua pengalaman itu digerakkan oleh instruksi dalam program komputer.
Kemajuan ekosistem digital yang semakin mapan telah memicu lahirnya berbagai startup inovatif. Perkembangan ini tak hanya membuka peluang kerja baru, tetapi juga mempercepat digitalisasi di berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, layanan, keuangan, pariwisata, hingga teknologi pertanian. Pada tahun 2024, Indonesia tercatat memiliki 2.562 startup, menjadikannya negara dengan jumlah terbanyak keenam di dunia, kedua di Asia, dan tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
Indonesia juga menorehkan prestasi sebagai negara dengan jumlah kreator YouTube terbanyak di Asia Tenggara. Tercatat ada 3.000 kanal dari Indonesia yang memiliki lebih dari satu juta pelanggan. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan platform digital untuk mengekspresikan diri, menyebarkan informasi, sekaligus membangun profesi. Dari konten hiburan hingga edukasi, para kreator sukses menarik jutaan penonton dan membuktikan bahwa bakat digital memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.
Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia terus mencatat pertumbuhan pesat dalam jumlah pengguna internet. Kemudahan akses melalui perangkat mobile dan jaringan rumah telah mengubah pola hidup masyarakat dalam berkomunikasi, bekerja, dan memperoleh informasi. Tingginya tingkat konektivitas ini menjadi fondasi utama bagi berkembangnya ekonomi digital serta percepatan adopsi berbagai teknologi baru.
Meski demikian, di balik kemajuan digital, kita juga perlu menaruh perhatian pada profesi konvensional yang selama ini menopang perekonomian. Peran petani, guru, hingga pekerja pabrik tetap krusial bagi keberlangsungan hidup masyarakat, meskipun kerap luput dari sorotan. Tantangannya kini adalah bagaimana teknologi bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pekerjaan-pekerjaan tersebut, bukan justru menggantikannya sepenuhnya.
Perubahan gaya kerja dan kehidupan juga tercermin dalam tren digital nomad di Bali. Banyak pekerja lepas dan profesional digital memilih bekerja secara remote, menikmati kebebasan lokasi tanpa terikat ruang kantor. Bali, dengan pesona alam dan infrastruktur yang memadai, menjelma menjadi pusat tujuan para digital nomad. Hal ini menandai bahwa masa depan dunia kerja semakin fleksibel dan tak selalu bergantung pada keberadaan kantor fisik.
Salah satu contoh Cianjur yang dikenal dengan keindahan alam dan potensi pertaniannya berikhtiar mentransformasikan pertanian konvensional. Melalui inisiatif teknologi digital memungkinkan para petani untuk memantau hasil panen, mengelola irigasi, bahkan memasarkan produk secara online. Adaptasi teknologi dapat merevolusi sektor vital dan membuka peluang baru bagi masyarakat.
Implementasinya dapat kita lihat dari Kelompok Taruna Tani Akur yang beranggotakan 20 petani muda di Cipanas. Melalui program desa digital tematik pertanian menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Kelompok tani ini mengelola dua lahan hidroponik dan dua lahan konvensional. Dengan bantuan aplikasi dan peralatan smart farming berbasis IoT, pengelolaan lahan menjadi lebih efisien dan terstruktur. Aplikasi tersebut memungkinkan untuk mengontrol kondisi lahan, seperti pengukuran pH tanah dan penyiraman, langsung dari ponselnya. Teknologi ini terbukti sangat membantu, terutama saat musim kemarau, karena penyiraman dapat dilakukan dengan lebih hemat waktu.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, inisiatif tersebut tidak muncul begitu saja. Membekali generasi muda dengan keterampilan abad ke-21 menjadi sangat krusial. Terutama, penguasaan teknologi digital seperti koding dan AI. Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan kolaborasi, kreativitas, dan literasi digital, yang sangat dibutuhkan di dunia kerja digital saat ini.
Pembelajaran koding dan AI kini menjadi elemen penting dalam mempersiapkan generasi muda Indonesia agar mampu bersaing secara global. Di tengah laju perkembangan teknologi yang sangat cepat, keterampilan ini menjadi bekal berharga bagi anak-anak dalam menghadapi tantangan masa depan. Banyak negara maju telah lebih dahulu mengenalkan teknologi seperti koding dan AI sejak jenjang pendidikan dasar, menjadi cerminan bagi Indonesia untuk segera menyusul dalam mengintegrasikan pendidikan berbasis teknologi serupa.
Bahasa pemrograman menjadi sarana utama dalam pembelajaran koding dan AI, karena melalui bahasa inilah komputer dapat dipahami dan diarahkan untuk menjalankan berbagai perintah. Mengenalkan bahasa pemrograman sejak dini—seperti Python, Scratch, atau JavaScript—tidak hanya melatih logika dan struktur berpikir sistematis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri anak dalam menciptakan solusi digital. Seperti halnya bahasa asing yang memperluas wawasan budaya, bahasa pemrograman membuka jendela ke dunia teknologi global, memungkinkan generasi muda Indonesia untuk tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi aktif berkontribusi dalam menciptakan aplikasi, game, hingga sistem berbasis AI yang berguna bagi masyarakat.
Meski masih ada anggapan bahwa literasi dan numerasi dasar lebih utama, perlu disadari bahwa penguasaan teknologi justru mendukung penguatan keduanya. Pengetahuan tentang koding dan AI merupakan bagian tak terpisahkan dari literasi digital yang kini menjadi kebutuhan utama. Keterampilan ini juga mendorong kreativitas, inovasi, serta membuka jalan bagi generasi muda untuk menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar pengguna.
Dari berbagai dinamika tersebut, muncul pertanyaan penting: bagaimana sistem pendidikan di sekolah dapat bertransformasi? Perlukah koding diajarkan sejak usia dini sebagai pelajaran wajib? Mengintegrasikan pelajaran ini dalam kurikulum akan memberikan keunggulan kompetitif yang relevan dengan kebutuhan zaman. Namun lebih dari itu, pendidikan harus menekankan pada pengembangan cara berpikir logis, kemampuan analisis, penyelesaian masalah, dan kecakapan dalam menciptakan solusi, hal-hal yang penting di semua bidang kehidupan. (*)



















