Oleh : Farhanuddin, M. Si
(Dosen FISIP Hukum Unsulbar)
Di tengah kompleksitas dunia pendidikan modern, kemampuan berkomunikasi sering disebut sebagai keterampilan abad ke-21 yang wajib dimiliki oleh generasi muda. Namun, saat berbicara tentang komunikasi, perhatian masih kerap tertuju pada aspek verbal—yakni kemampuan menyampaikan gagasan secara lisan maupun tulisan. Padahal, komunikasi nonverbal memiliki peran yang tak kalah penting, terutama bagi pelajar dan mahasiswa yang tengah membentuk identitas diri dan membangun jaringan sosial maupun profesional.
Komunikasi nonverbal merujuk pada penyampaian pesan melalui cara-cara yang tidak menggunakan kata-kata. Ekspresi wajah, gestur, postur tubuh, kontak mata, intonasi suara, hingga cara berpakaian, semuanya merupakan bentuk komunikasi nonverbal yang bisa mencerminkan emosi, sikap, bahkan karakter seseorang.
Di lingkungan sekolah dan kampus, komunikasi nonverbal terjadi setiap hari—baik disadari maupun tidak. Ketika seorang mahasiswa menunjukkan senyuman saat berdiskusi, atau ketika seorang pelajar duduk tegak dan memberi perhatian penuh di kelas, itu semua adalah pesan nonverbal yang memperkuat interaksi sosial dan akademik.
Meningkatkan Interaksi Sosial dan Akademik
Komunikasi nonverbal dapat menciptakan kesan positif di lingkungan belajar. Siswa atau mahasiswa yang mampu menunjukkan antusiasme, keterbukaan, dan rasa hormat melalui bahasa tubuh lebih mudah membangun hubungan yang sehat dengan guru, dosen, maupun teman sebaya.
Mendukung Efektivitas Belajar Mengajar
Dalam proses belajar, ekspresi wajah dan kontak mata menjadi indikator penting bagi pengajar untuk mengetahui apakah peserta didik memahami materi yang disampaikan. Di sisi lain, mahasiswa juga dapat mengomunikasikan kebingungan atau ketertarikan tanpa harus mengucapkannya secara eksplisit.
Kunci Sukses dalam Presentasi dan Diskusi
Komunikasi nonverbal berperan besar dalam menunjang kemampuan public speaking. Mahasiswa yang menguasai gestur yang tepat, intonasi suara yang bervariasi, dan kontak mata yang kuat akan tampil lebih meyakinkan dan profesional saat menyampaikan presentasi atau berargumen dalam diskusi.
Mempersiapkan Diri Menghadapi Dunia Kerja
Dunia kerja menuntut lebih dari sekadar kecakapan teknis. Etika kerja, kepercayaan diri, dan kemampuan interpersonal sangat dinilai dalam proses rekrutmen. Sikap tubuh, cara berjabat tangan, dan cara membawa diri dalam wawancara kerja adalah bagian dari komunikasi nonverbal yang dapat menentukan kesan pertama calon pemberi kerja.
Membangun Kesadaran Emosional dan Empati
Kemampuan memahami bahasa tubuh orang lain melatih mahasiswa menjadi individu yang lebih empatik. Ini penting tidak hanya untuk membina hubungan pribadi, tetapi juga dalam membangun kerja tim yang solid—baik di organisasi kampus maupun di dunia profesional nantinya.
Mendorong Literasi Komunikasi Nonverbal di Dunia Pendidikan
Dunia Pendidikan formal di Indonesia masih jarang memberi perhatian khusus pada literasi komunikasi nonverbal. Padahal, keterampilan ini dapat diasah sejak dini melalui pembiasaan, pelatihan komunikasi interpersonal, dan penguatan etika sosial dalam kegiatan ekstrakurikuler.
Sudah saatnya lembaga pendidikan tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga membekali pelajar dan mahasiswa dengan kecakapan sosial yang komprehensif—termasuk komunikasi nonverbal. Karena pada akhirnya, kesuksesan di era modern tidak hanya ditentukan oleh apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana cara seseorang menyampaikannya.
Komunikasi nonverbal adalah bagian dari kecerdasan sosial yang penting dimiliki oleh pelajar dan mahasiswa. Dalam dunia yang semakin mengedepankan kolaborasi dan interaksi antarpersonal, kemampuan membaca dan menggunakan bahasa tubuh secara efektif bisa menjadi keunggulan tersendiri.
Sebagai generasi penerus bangsa, pelajar dan mahasiswa perlu dibekali tidak hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan komunikasi yang utuh—baik verbal maupun nonverbal. Karena di balik setiap kata yang diucapkan, ada pesan yang lebih kuat yang disampaikan melalui sikap, ekspresi, dan tindakan.
Mencermati urgensi pengetahuan dan keterampilan komunikasi non-verval, Sebanyak 47 mahasiswa penerima beasiswa CSR Universitas Terbuka (UT) Majene dari Jurusan Manajemen dan KIPK Jurusan Perpustakaan mengikuti Pelatihan Public Speaking bertajuk “Membangun Kepercayaan Diri dan Kompetensi Komunikasi Mahasiswa Universitas Terbuka”.
Sebagai salah seorang pemateri di kegiatan tersebut, penulis menyampaikan sejumlah materi tentang komunikasi non- verbal, mulai Bahasa Tubuh, Kontak Mata hingga Teknik Retorika.
Pada salah satu materi yang penulis sampaikan bertema, “Struktur Presentasi Efektif & Teknik Menjalin Koneksi dengan Audiens”. Penulis memberikan teori dan praktek perihal merancang pembukaan yang memukau, penyampaian inti yang jelas, dan penutup yang berkesan.
Penulis berpesan ke para peserta mahasiswa, untuk menjadi bekal setelah menjadi sarjana penting mempperhatikan bahwa dalam presentase, selain fokus pada materi, juga memberi perhatian epada bahasa tubuh, respon penerima pesan, empati melalu penyesuaian gaya bicara.
Dari pelatihan dengan diisi teori dan praktik komunikasi non verbal seperti itu, mahasiswa mendapat tambahan keterampilan komunukasi yang akan membawa manfaat saat sementara kuliah dan setelah memasuki dunia kerja, Semoga. (*)



















