MAKASSAR, PIJARNEWS.COM–Sebanyak sepuluh dai dan daiyah Kafilah Dakwah Ramadhan (Kafda) 1447 H dari Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir berhasil diterjunkan ke wilayah terpencil di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Mereka tidak hanya menyasar enam titik di lima kabupaten Sulsel, tetapi juga tiga desa pelosok di Sulbar yang selama ini nyaris tak tersentuh para pendakwah.
Kedatangan para dai disambut haru di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar pada Jumat malam (13/2/2026) pukul 21.00 WITA. Ustaz Abdul Ghaffar bersama tim Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Sulsel telah menanti sejak sore. Selepas penjemputan, rombongan beristirahat di kantor DDII Sulsel sebelum menjalani agenda penyambutan keesokan harinya.
Suasana semakin menghangat saat Sabtu siang digelar forum perkenalan antara para dai kafda dengan pengurus DDII Sulsel dan mahasiswa Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Sulsel. Diskusi berlangsung penuh keakraban, diiringi semangat juang yang membara untuk mengabdikan diri di medan dakwah.
Dr. Askar Fatahuddin, penanggung jawab dai Kafilah Dakwah Ramadhan (Kafda) Sulawesi Selatan, mengungkapkan bahwa dalam forum tersebut para dai mendapat gambaran detail mengenai lokasi tugas yang tersebar di Sinjai, Maros, Tana Toraja, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
“Kami juga bersyukur, DDII Sulsel tidak hanya menjembatani distribusi di Sulsel, tetapi juga ikut serta memberangkatkan tiga dai kafda untuk tiga desa pelosok di Provinsi Sulawesi Barat. Mereka adalah Iwan Sulaeman, Wira, dan Ari Laso yang akan ditempatkan di Kecamatan Pangale, Kalukku, dan Ulumanda—wilayah dengan medan berat dan akses yang sangat terbatas,” jelas Dr. Askar, Ahad (15/2/2026).
Gotong Royong Dakwah: Dari Makassar ke Pelosok Tiga Provinsi
Proses distribusi dai berlangsung cepat dan terorganisir. Pada hari Ahad, 15 Februari 2026, tim DDII Maros yang dipimpin Dr. Thamrin menjemput dua dai, yakni M. Mafatih dan M. Aufnu untuk segera diterjunkan ke lokasi. Malam harinya, giliran dai Idri Hasyim yang didampingi M. Abdul Munzir (mahasiswa ADI) diberangkatkan menuju Makale Selatan, Tana Toraja.
“Kolaborasi ini menunjukkan sinergi yang luar biasa antara STID Mohammad Natsir, DDII Sulsel, dan ADI Sulsel. Ini bukan sekadar program tahunan, tapi gerakan dakwah berjamaah yang melibatkan banyak pihak,” tambahnya.
Kafilah Dakwah Ramadhan sendiri merupakan program rutin STID Mohammad Natsir yang telah berlangsung bertahun-tahun. Tahun ini, tercatat 171 dai dan daiyah diterjunkan ke 31 provinsi di Indonesia serta luar negeri . Mereka tidak hanya bertugas sebagai khatib dan imam tarawih, tetapi juga sebagai guru ngaji yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di pedalaman dengan metode yang asyik dan menyenangkan .
Bersama Masyarakat, Hidupkan Ramadan di Bumi Marjinal
Hingga laporan ini dibuat, seluruh dai telah tiba di lokasi tugas masing-masing. Mereka akan mengabdi selama bulan Ramadan, membimbing masyarakat yang selama ini minim akses terhadap bimbingan keagamaan. Sebagian besar lokasi tugas masuk dalam kategori daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang membutuhkan perhatian khusus .
Dr. Askar menegaskan bahwa kehadiran para dai diharapkan mampu menguatkan akidah umat, terutama mereka yang berada di wilayah termarjinalkan. “Pak Natsir (almarhum pendiri STID Mohammad Natsir) selalu mengingatkan pentingnya seorang dai bertengger di hati umat. Beliau berpesan agar para dai selalu ingat ‘jam berapa sekarang’—pengingat bahwa waktu terus berjalan, dan tanggung jawab dakwah harus segera diemban tanpa menunda,” kenangnya.
Pesan tersebut menjadi spirit bagi para dai yang kini tersebar di berbagai pelosok: dari Teras, Sinjai Barat; Camba, Maros; Bo’ne Buntu Sisong, Makale Selatan; Rampi, Luwu Utara; Margolembo dan Tomoni, Luwu Timur; hingga Pangale, Kalukku, dan Ulumanda di Sulawesi Barat.
Ajak Masyarakat Berkontribusi: Satu Rupiah untuk Dakwah yang Berkelanjutan
Perjuangan para dai di medan terpencil tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Medan ekstrem, jarak tempuh jauh, serta keterbatasan fasilitas menjadi tantangan yang harus mereka hadapi setiap hari . Karena itu, dukungan moril dan materil dari masyarakat sangat dibutuhkan.
Masyarakat yang ingin turut serta dalam gerakan dakwah ini dapat menyalurkan bantuan melalui LAZNAS Dewan Dakwah yang telah terverifikasi dan memiliki program khusus untuk mendukung operasional para dai di lapangan . Setiap rupiah yang disumbangkan akan menjadi jalan pahala jariyah yang terus mengalir, sekaligus menjadi sebab hidayah sampai ke saudara-saudara kita di pedalaman.
“Mari kita dukung perjuangan para dai kita. Mereka telah berkorban waktu, tenaga, dan meninggalkan kenyamanan demi menghidupkan Ramadan di tengah saudara-saudara kita yang membutuhkan bimbingan. Sekecil apa pun kontribusi kita, insya Allah akan menjadi amal yang tak terputus,” ajak Dr. Askar.
Bagi yang ingin berpartisipasi, donasi dapat disalurkan melalui program Kafilah Dakwah LAZNAS Dewan Dakwah. Hingga saat ini, dana yang terkumpul masih jauh dari total kebutuhan . Namun, para dai tetap melangkah, optimis bahwa setiap langkah dakwah adalah ladang amal yang akan menuai pertolongan Allah.
Keberadaan para dai di pelosok Sulsel dan Sulbar ini menjadi bukti bahwa dakwah tak pernah berhenti, dan semangat menebar kebaikan tak mengenal batas geografis. Ramadan 1447 H akan menjadi Ramadan yang berbeda bagi masyarakat di desa-desa terpencil—Ramadan yang terang benderang oleh cahaya iman yang dibawa para dai. (rls)












